Pada prinsipnya, segala hal yang terlalu banyak ialah tidak baik. Walau
sulit ditampik terdapat beberapa manfaat kesehatan dari
mengkonsumsi alkohol, dampak buruk dari alkohol lebih gawat lagi. Tidak
hanya masalah gangguan kejiwaan dari akibat ketergantungan alkohol, tapi
juga masalah kerusakan organ internal juga, seperti, hati, jantung, pankreas
atau pun sistem pencernaan.
Gangguan yang sering ditemukan pada gangguan pada hati, jantung, pancreas
dan perdarahan saluran pencernaan dikarenakan penyalahgunaan alkohol.
Penggunaan alkohol secara rutin dan oplosan dalam pembuatan minuman keras
yang asal-asalan seperti minuman itu dicampur dengan Sari Puspa (obat nyamuk
oles) yang katanya bisa membuat mantap minuman itu, sehingga menyebabkan
gangguan pada berbagai organ dan juga dipercayai menjadi salah satu penyebab
kanker yang sedang diteliti.
Lalu, how alcohol
can make broked dalam tubuh ? Berikut penjelasannya:
·
Epidemiologi
Diperkirakan
lebih dari 85 persen penduduk di AS pernah menkomsumsi alkohol
sekurang-kurangnya satu kali dalam seumur hidupnya dan sekitar 52 persen dari
semua orang dewasa di AS merupakan pengguna alkohol yang cukup rutin hingga
sekarang ini. Penyalahgunaan alkohol lebih umum terjadi di masyarakat yang
berpendapatan rendah dan kurangnya pendidikan.
Sekurang-kurangnya
terdapat 200.000 kematian yang berhubungan dengan alkohol tiap tahunnya.
Penyebab kematian yang sering ialah bunuh diri, kanker, penyakit jantung dan
penyakit hati.
Kelompok
usia dengan presentasi penggunaan alkohol tertinggi ialah antara 20 tahun
hingga 35 tahun. Sedangkan dari jenis kelamin, laki-laki secara bermakna lebih
mungkin menggunakan alkohol daripada wanita. Dari segi ras, penggunaan alkohol
lebih banyak terdapat pada kaum kulit putih dibandingkan dengan kaum kulit
hitam.
Demikiannya
alkohol dapat memberikan keburukan untuk tubuh manusia, apapun rasnya dan
asal negaranya. Berikut ini penjelasan bagaimana alkohol memberikan dampak
buruk bagi tubuh manusia:
·
Patofisiologi
Gangguan berhubungan dengan alkohol seperti hampir semua dengan keadaan psikiatri yang lainnya, mewakilii suatu kelompok yang heterogen, dan pada setiap kasus individual bervariasi penyebabnya yang meliputi faktor Psikososial, faktor keturunan faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Alkohol di dalam tubuh mempengaruhi hampir setiap sitem organ dan di dalam dosis tinggi dapat menyebabkan koma atau kematian. Alkohol mempengaruhi beberapa system saraf, termasuk opiate, GABA, glutamate, serotonin dan dopamine. Peningkatan kadar opiate di dalam darah menjelaskan efek bahagia di dalam alkohol yang juga diterangkan oleh peningkatan GABA yang mempengaruhi efek mengantuk / sedative dan tenang.
·
Gejala dan Tanda
Beberapa
gejala dan tanda yang menjadi kriteria diagnosis dan gambaran klinis dari
penyalahgunaan alkohol.
1. Ketidakmampuan untuk memutuskan atau berhenti minum alkohol
2. Usaha berulang untuk mengontrol atau menurunkan minum yang berlebihan dengan tidak minum minuman keras, atau membatasi minum pada waktu tertentu
3. Pesta minuman keras (tetap keracunan sepanjang hari atau minimal 2 hari)
4. Menkonsumi lima takaran minuman keras
5. Periode lupa ingatan untuk peristiwa yang terjadi selama terintokasi
6. Terus minum walaupun ada gangguan fisik yang telah diketahui akibat penggunaan alkohol yang berlebihan
7. Minum alkohol yang bukan minuman seperti bahan bakar
8. Gangguan dalah fungsi sosial dan pekerjaannya akibat penggunaan alkohol.
Beberapa
gejala Intoksikasi alkohol
1. Baru saja menggunakan alkohol
2. Perilaku psikologis yang bermakna secara klinis, contoh perilaku seksual atau agresif yang tidak tetap
3. Satu atau beberapa tanda yang berkembang selama penggunaan alkohol
4. Bicara cadel
5. Inkoordinasi
6. Gaya berjalan tidak mantap
7. Nistagmus
8. Gangguan atensi atau daya ingat
9. Stupor atau koma.
Beberapa
gejala efek balik alkohol
1. Mual dan muntah
2. Agitasi dan cemas
3. Sakit kepala, gemetar atau kejang
4. Gangguan halusinasi baik suara maupun penglihatan
5. Nadi Cepat atau tekanan darah tinggi
6. Meningkatnya temperature tubuh
7. Penurunan kesadaran
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan tambahan lain yang diperlukan
adalah pengukuran alkohol di dalam darah, jika melebihi 300 mg/ dl dapat
menunjukan intosikasi akibat alkohol.
Lalu
bagaimana pengobatannya ? Berikut penjelasannya:
·
Penatalaksanaan
Walaupun dikatakan pengendalian minuman akan alkohol adalah terapi yang baik
dari penyalahgunaan alkohol, menurut beberapa penilitian bahwa Sama sekali
tidak menkomsumsi alkohol adalah jalan terbaik dalam keberhasilan untuk
pengobatan penyalah gunaan alkohol. Hal ini dilakukan untuk menghindari
kembalinya pecandu alkohol dalam memasuki alam euphoric yang disebabkan oleh
alkohol. Biasanya pasien yang datang berobat adalah pasien yang ditekan oleh
lingkungan baik dari keluarga maupun pasangannya, atau ketakutan akan kematian
yang disebabkan oleh alkohol. Pasien yang memiliki tekanan atau bujukan dari
luar memiliki kemungkinan untuk sembuh daripada pasien yang tidak memiliki
tekanan dari dunia luar.
Tetapi prognosis (perkiraan mengenai jalannya penyakit) yang terbaik adalah
orang yang datang mencari pengobatan yang datang ke petugas kesehatan
secara sukarela dan menyadari bahwa mereka membutuhkan
pertolongan. Beberapa terapi yang dapat digunakan adalah psikoterapi,
medikamentosa dan terapi perilaku.
Psikoterapi memusatkan kepada alasan penyebab kenapa seseorang melarikan
diri ke minuman alkohol pada pertama kalinya. Dengan mengetahui penyebab dan
menyelesaikan pusat masalah dari seseorang, kecenderungannya untuk melarikan
diri ke dalam alkohol dapat diminimalisasi.
Penggunaan medikamentosa seperti Disulfiram, yang dapat menghambat secara
kompetitif enzim aldehida dehidrogenase sehingga minuman segelas pun akan
meneyebabkan reaksi toksik. Pemberian obat tidak boleh dimulai sampai 24 jam
setelah minuman terakhir. Penggunaan antiacemas dan antidepresi juga dapat
digunakan pada pasien untuk mengurangi gejala kecemasan dan depresi pada pasien
yang berhubungan dengan alkohol.
Terapi Perilaku mengajarkan seseorang dengan gangguan berhubungan dengan
alkohol untuk menurunkan kecemasan. Latihan relaksasi melalui pernafasan dan
pengendalian diri seperti mengikuti kursus-kursus yang dapat menenangkan diri
baik dari segi agama maupun budaya dapat menurunkan perilakunya untuk
menkonsumsi alkohol
Selain melakukan beberapa terapi seperti contoh diatas, yang terpenting
adalah mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan Bertaubat untuk tidak lagi
melakukan kemaksiatan seperti meminum minuman keras.
0 komentar:
Posting Komentar