PEMERIKSAAN FISIK PADA BERMACAM KELAINAN PARU

Bronkitis
Bronkitis adalah peradangan atau inflamasi pada mukosa bronkus. Parenkim paru normal atau tidak terinfeksi. Manifestasi klinik yang tampak berasal dari hipersekresi dan terjadinya eksudat. Dahak yang terbentuk mula-mula kental, setelah beberapa hari berubah menjadi agak encer.
Etiologi bronkitis dapat dibagi menjadi:
1. Fisik: udara dingin/panas, asap, debu
2. Bahan kimia
3. Alergi
4. Infeksi: paling sering adalah virus, penyebab yang lain adalah bakteri, jamur, parasit
Melihat etiologi di atas dapat dimengerti bahwa demam tidaklah selalu menyertai bronkitis.\ Bronkitis biasanya tidak menimbulkan gejala klinis yang berat, dan biasanya tidak disertai sesak nafas maupun sianosis. Pada pemeriksaan paru, biasanya hanya didapatkan ronki basah kasar tanpa perubahan suara dasar nafas vesikuler. Pada perkusi maupun palpasi tidak didapatkan kelainan.

Asma Bronkiale
Asma merupakan penyakit paru obstruktif kronik episodik yang ditandai oleh hiperreaktivitas bronkus (menyebabkan bronkokonstriksi) dan inflamasi saluran nafas. Pada asma terjadi kesulitan bernafas terutama saat ekspirasi. Pasien lebih nyaman dalam keadaan tiduran setengah duduk atau bila serangan berat penderita akan menempatkan diri pada posisi tripod (kedua tangan berpegangan pada tepi tempat tidur supaya otot-otot pernafasan aksila bisa membantu pernafasan). Perabaan nadi pada serangan asma berat dapat didapatkan pulsus paradoksus. Pada inspeksi tampak penderita menggunakan otot-otot bantuan nafas, mungkin dengan posisi tripod. Bila berat dapat didapatkan sianosis dan nafas cuping hidung. Pada dada terdapat retraksi, dada berbentuk emfisematosa (penambahan diameter antero-posterior). Hipersonor didapatkan pada perkusi. Pada auskultasi didapatkan suara vesikuler dengan ekspirasi diperpanjang, ronki basah kasar, wheezing, dan ronki kering. Kadang-kadang juga didapatkan ronki basah halus dan krepitasi. Pada serangan berat wheezing tidak terdengar karena penyempitan bronkus yang hebat.
Pneumonia
Pneumonia adalah inflamasi atau peradangan yang terjadi pada parenkim paru atau alveoli. Pneumonia biasanya diawali dengan infeksi saluran nafas atas yang menimbulkan komplikasi. Sebab lain adalah tirah baring lama, sepsis, atau aspirasi. Perjalanannya tidak berlangsung tibatiba. Sarang-sarang radang merupakan infiltrat kecil-kecil di parenkim paru, lebih kurang mengikuti percabangan bronkus. Infiltrat-infiltrat ini dapat membentuk konsolidasi. Pneumonia lobaris terjadi bila radang paru mengenai satu lobus paru tertentu. Pneumonia merupakan sebab kematian tersering pada anak di negara berkembang selain diare. Pada pemeriksaan didapatkan sesak nafas, yang ditandai dengan adanya nafas cepat dan atau retraksi. Retraksi subkostal lebih spesifik untuk penanda pneumonia. Bila berat dapa  dijumpai sianosis. Palpasi taktil meningkat, demikian juga resonansi vokal meningkat (bronkofoni atau egofoni) karena adanya infiltrat dan konsolidasi yang meningkatkan penghantaran suara. Perkusi akan terdengar redup. Pada auskultasi didapatkan suara bronkial pada daerah paru yang terkena, karena adanya konsolidasi. Suara tambahan yang didapatkan adalah ronki basah halus yang timbul saat akhir inspirasi (krepitasi).
Bronkiolitis
Bronkiolitis adalah peradangan pada bronkiolus, ditandai dengan adanya penyempitan jalan nafas sekunder karena penumpukan sel-sel radang. Bronkiolitis merupakan penyakit paru yang hanya diderita anak umur kurang dari 2 tahun (tersering adalah 6 bulan-2 tahun), karena diameter bronkiolus yang relatif masih kecil, sehingga peradangan sedikit saja dapat menimbulkan sesak nafas. Penyebab utamanya adalah infeksi oleh RSV (Respiratory Syncitial Virus). Pemeriksaan fisik pada bronkiolitis serupa pada asma bronkiale, karena patofisiologinya hampir mirip, yaitu adanya penyempitan saluran nafas. Bedanya dengan asma adalah bahwa bronkiolitis tidak berespon terhadap pemberian inhalasi beta agonis atau adrenalin.
Emfisema
Pada emfisema pulmonum, alveoli amat melebar. Jaringan intraalveolar tipis atau malahan ada yang hilang. Jadi paru berbentuk lebih gembung dan lebih banyak mengandung udara, tetapi luas permukaan alveoli sangat berkurang. Ini menyebabkan pengembangan paru terbatas, sehingga terjadi sesak nafas. Pada inspeksi didapatkan bentuk dada emfisematosa, berbentuk tong, dengan ukuran lebar relatif lebih besar dibanding panjangnya, dengan posisi kosta mendatar. Pada perkusi didapatkan hipersonor, batas jantung sukar ditentukan. Pada auskultasi didapatkan vesikuler diperlemah.
Pneumothorax
Pneumothorax berarti ada udara di rongga pleura. Dalam keadaan normal, rongga pleura hampa udara, hanya terdapat sedikit sekali cairan di dalamnya. Pneumothorax dapat terjadi pada asma berat, emfisema, trauma dinding dada, atau efek samping dari ventilator. Pada umumnya pneumothorax bersifat akut dan unilateral. Penderita lebih senang berbaring pada sisi yang sakit karena paru yang sehat akan lebih mengembang sehingga dapat mengkompensasi paru sakit. Pada inspeksi didapatkan sela iga mencembung dan ada ketinggalan gerak. Pada palpasi leher didapatkan trakea bergeser ke arah yang sehat. Perkusi paru sakit didapatkan hipersonor. Pada auskultasi didapatkan vesikuler diperlemah.
Fibrosis Pulmonum
Pada fibrosis pulmonum, jaringan paru sehat diagnti oleh jaringan ikat. Biasanya terjadi pada proses kronik seperti pada tuberkulosis post primer dan pneumonia yang berlangsung lama. Adanya jaringan ikat pada paru akan membatasi pengembangan paru. Pada inspeksi didapatkan retraksi pada paru yang sakit dan ketinggalan gerak. Sela iga mencekung dan menyempit. Pada paru yang fibrosis didapatkan perkusi yang redup, dengan batas jantung bergeser ke arah paru yang sakit. Pada auskultasi didapatkan vekikuler yang melemah.
Pleuritis Eksudativa dan Schwarte
Pleuritis adalah peradangan pada pleura, dapat berlangsung akut maupun kronis. Pada inspeksi didapatkan penderita tampak nyeri, mungkin didapatkan ketinggalan gerak, redup absolut didapatkan pada perkusi. Dari auskultasi didapatkan vesikuler melemah.
Schwarte adalah penebalan jaringan pleura karena terbentuknya jaringan ikat, merupakan akibat dari pleuritis eksudativa, atau bila ada pyothorax dan hematothorax. Pada Schwarte pleura menebal dan mengkerut, karena itu waktu diam saja sudah nampak sebagai retraksi. Pleura yang kaku akan menahan pengembangan paru sehingga waktu inspirasi tampak retraksi dan ketinggalan gerak. Pada pemeriksaan auskultasi didapatkan vesikuler melemah.
Edema Paru
Edema paru merupakan timbunan cairan dalam alveoli, terjadi pada keadaan gagal jantung, overhidrasi, dan pneumonia. Gejala yang muncul adalah sesak nafas dan batuk. Pada
pemeriksaan fisik khas didapatkan ronki basah halus di bagian basal paru dengan suara vesikuler diperlemah.
Atelektasis
Atelektasis berarti kolapsnya alveoli paru sebagai akibat dari adanya cairan di rongga pleura yang banyak atau adanya sumbatan pada bronkus (misalnya pada sekresi lendir yang kental yang menyumbat bronkus). Pada pemeriksaan fisik didapatkan trakea bergeser ke arah paru yang sakit, ada ketinggalan gerak, perkusi redup, dan vesikuler diperlemah.

0 komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

 
Top