Batuk Darah
Seorang perempuan berusia 23 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan batuk darah sejak tiga hari yang lalu. Sebelumnya pasien pernah batuk sejak setahun yang lalu. Batuk hilang dan timbul. Kadang-kadang pasien merasa sesak. Pasien juga mengeluh badannya terasa lemah, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit, kesadaran composmetis, tekanan darah 120/80mmHg, frekuensi pernapasan 20x/menit, denyut nadi 88x/menit, temperatur 36,8̊c. Pemeriksaan paru ditemukan redup pada paru kanan atas, ronkhi basah kasar pada paru kanan dan kiri.
Step I
1.      Batuk darah à Suatu reflek pertahanan yang timbul akibat iritasi trakheobronkial dan percabangannya
Hemoptisis à Batuk produktif dengan hasil berupa sputum bercampur bekuan darah, yang biasanya berkaitan dengan letikavitasi pada paru-paru, tumor paru, penyakit jantung tertentu atau emboli paru
2.      sesak atau dispnue à kesulitan bernapas karena disebabkan terjepitnya saluran napas
àsensasi tidak nyaman pada saat bernapas
àpernapasan yang sulit sehingga harus memakai tenaga bantuan otot lain
Sesansi tidak nyaman yang disebabkan oleh kesulitan bernapas karena kontriksi atau obstruksi saluran pernapasan sehingga harus mempunyai bantuan otot lain.
3.      Redup àsuara yang dihasilkan dari perkusi karena adanya masa paru
4.      ronki basah kasar àsuara yang dihasilkan dari pemeriksaan auskultasi karena adanya suara tambahan pada paru

Step II
1.      Apakah yang menyebabkan terjadinya batuk darah?
2.      Dimana saja letak kelainan?
3.      Mengapa batuk darah bisa terjadi?
4.      Penyakit apa yang berkaitan dengan batuk darah?
5.      Bagaimana anatomi dari sistem pernapasan?
6.      Apa yang menyebabkan sesak?
7.      Dimana letak kelainan sesak?
8.      Mengapa bisa terjadi sesak?
9.      Mekanisme dari pernapasan normal?
10.  Perubahan apa saja yang terjadi pada pernapasan?
11.  Apa saja yang menyebabkan suara redup?
12.  Dimana letak kelainannya?
13.  Mengapa suara redup bisa terjadi?
14.  Apa saja yang menyababkan ronki basah?
15.  Dimana letak kelainan ronki basah?
16.  Mengapa ronki basah bisa terjadi?
Step III
1.      Nares anterior à kavitas nasi à choana à naso faring à laring à trakhea à bronkus primer (bronkus principalis) à bronkus lobaris à bronkus tersier à bronkhiolus à bronkhiolus terminalis à bronkhiolus respiratorius à sulcus alveolus à atrium alveolaris à ductus alveolaris (kotin) à alveolus
2.      Fisiologi pernapasan
a. inspirasi : otot-otot pernapasan, relaksasi dan diafragma naik à menurunkan tekanan dalam paru-paru à udara mengalir masuk kedalam paru-paru à pertukaran udara dialveolus
b. ekspirasi : otot-otot penapasan kontraksi dan diafragma turun
 3. Rirkulasi diparu digolongkan dalam 2 bagian:
a.  Pulmonal
b.  Bronkial
4. Penyakit apa saja yang berkaitan dengan batuk darah
·      Bronkiolitis
·      Edema paru
·      Bronkitis
·      TBC
·      Emboli
·      Bronkiektasis
·      Stenosis mitral
·      Dekominsi
6. Penyebab sel pernapasan
·           Kekurangan O2
·           Gangguan sirkulasi
·           Gangguan pertukaran gas
7. tergantung dari letak organnya
14. diagnosa tergantung dari organ yang terkena
Step IV
Step V
1.      Apakah yang menyebabkan terjadinya batuk darah?
2.      Dimana saja letak kelainan?
3.      Mengapa batuk darah bisa terjadi?
4.      Penyakit apa yang berkaitan dengan batuk darah?
5.      Bagaimana anatomi dari sistem pernapasan?
6.      Apa yang menyebabkan sesak?
7.      Dimana letak kelainan sesak?
8.      Mengapa bisa terjadi sesak?
9.      Mekanisme dari pernapasan normal?
10.  Perubahan apa saja yang terjadi pada pernapasan?
11.  Apa saja yang menyebabkan suara redup?
12.  Dimana letak kelainannya?
Step VII
·         patogenesis hemoptosis dari penyakit paru-paru dan jantung
·         Hemoptisis atau batuk darah didefinisikan sebagai ekspektorasi darah atau dahak berdarah yang berasal dari saluran napas di bawah pita suara. Darah yang dikeluarkan dapat berupa dahak bercampur darah atau hanaya garis merah cerah di dahak, atau darah dalam jumlah banyak atau sedikit. Selain itu; dapat juga berupa bekuan darah hitam bila darah sudah terdapat dalam saluran napas berhari-hari sebelum dapat didahakkan.
·         Bronkiolitis invasi virus menyebabkan obstruksi bronkiolus akibat akumulasi mukus, debris dan edema. Terjadi resistensi aliran udara pernapasan berbanding terbalik (dengan radius lumen pangkat empat), baik pada fase inspirasi maupun fase ekspirasi. Terdapat mekanisme klep yaitu terperangkapnya udara yang menimbulkan overinflasi dada. Pertukaran udara yang terganggu menyebabkan ventilasi berkurang dan hipoksemia, peningkatan frekuensi napas sebagai kompensasi. Pada keadaan sangat berat dapat terjadi hiperkapnia. Obstruksi total dan terserapnya udara dapat menyebabkan atelektasis. Gangguan respiratorik jangka panjang pasca bronkiolitis dapat timbul berupa batuk berulang, mengi, dan hiperreaktivitas bronkus, yang cenderung membaik sebelum usia sekolah. Komplikasi jangka panjang lain yaitu bronkiolitis obliterans dan sindrom paru hiperlusen unilateral (Sindrom Swyer-James), sering dihubungkan dengan adenovirus.
·         Gagal jantung merupakan kelainan multisitem dimana terjadi gangguan pada jantung, otot skelet dan fungsi ginjal, stimulasi sistem saraf simpatis serta perubahan neurohormonal yang kompleks. Pada disfungsi sistolik terjadi gangguan pada ventrikel kiri yang menyebabkanterjadinya penurunan cardiac output .  Hal ini menyebabkan aktivasi mekanisme  kompensasi neurohormonal, sistem Renin ± Angiotensin ± Aldosteron (system RAA) serta kadar vasopresin dan natriuretic peptide yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan jantung sehingga aktivitas jantung dapat terjaga. Aktivasi sistem simpatis melalui tekanan pada baroreseptor menjaga cardiac output dengan meningkatkan denyut jantung, meningkatkan kontraktilitas serta vasokontriksi perifer (peningkatan katekolamin). Apabila hal ini timbul berkelanjutan dapat menyeababkan gangguan pada fungsi jantung. Aktivasi simpatis yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya apoptosis miosit, hipertofi dan nekrosis miokard fokal.








PEMBAHASAN
HEMOPTOSIS PADA PENYAKIT PARU
1.  Tuberkuosis Paru
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel < 5 mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati dan dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya.
Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberculosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian jaringan paru. Bila menjalar sampai ke pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring dan kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal dan tulang. Bila masuk ke arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier.
Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal) dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer limfangitis lokal + limfangitis regional = kompleks primer (Ranke).
Kuman yang dormant pada tuberculosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberculosis dewasa (tuberculosis post primer = TB pasca primer = TB sekunder). Mayoritas reinfeksi mencapai 90 %. Tuberculosis sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS dan gagal ginjal. Tuberculosis pasca primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru (bagian apikal-posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru.
Batuk darah pada tuberculosis terjadi karena terdapat pembuluh darah yang pecah terutama pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
1.       bronkiektasis
Patogenesis bronkiektasis tergantung faktor penyebabnya. Apabila bronkiektasis timbul kongenital, patogenesisnya tidak diketahui, diduga erat hubungannya dengan faktor genetik serta faktor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan. Pada bronkiektasis yang didapat, patogenesisnya diduga melalui beberapa mekanisme. Ada beberapa faktor yang diduga ikut berperan, antara lain: faktor obstruksi bronkus, infeksi pada bronkus atau paru, adanya beberapa penyakit tertentu seperti fibrosis paru, asthmatic pulmonary, eosinophilia dan faktor instrinsik dalam bronkus atau paru.
Infeksi primer pada bronkiektasis didahului oleh infeksi bronkus (bronchitis) maupun jaringan paru (pneumonia). Apabila sputum pasien bronkiektasis bersifat mukoid dan putih jernih, menandakan tidak atau belum ada infeksi sekunder. Sebaliknya apabila sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder.
Hemoptisis atau hemoptoe terjadi kira-kira pada 50 % kasus bronkiektasis. Kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah (pecah) dan timbul perdarahan. Perdarahan yang terjadi bervariasi, mulai yang paling ringan (streaks of blood) sampai perdarahan yang cukup banyak (masif) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri bronkialis (daerah berasal dari peredaran darah sistemik).
Pada dry bronchiectasis (bronkiektasis kering), hemoptisis justru merupakan gejala satu-satunya, karena bronkiektasis jenis ini letaknya di lobus atas paru, drainasenya baik, sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan refleks batuk. Pasien tanpa batuk atau batuknya minimal. Dapat diambil pelajaran, bahwa apabila ditemukan kasus hemoptosis hebat tanpa adanya gejala-gejala batuk sebelumnya atau tanpa kelainan fisis yang jelas hendaknya diingat dry bronchiectasis. Hemoptosis pada bronkiektasis walaupun kadang-kadang hebat jarang fatal. Pada tuberculosis paru, bronkiektasis (sekunder) ini merupakan penyebab utama komplikasi hemoptosis.
2.      Fibrosis kistik
Fibrosis kistik adalah kelainan genetic yang bersifat resesif heterogen dengan gambaran patobiologik yang mencerminkan mutasi pada gen regulator transmembrana fibrosis kistik
Dasar genetika. Fibrosis kistik merupakan penyakit autosomal resesif akibat mutasi gen yang terletak pada kromosom 7. Mutasi gen tersebut menyebabkan hilangnya fenilamin pada rantai asam amino 508 gen fibrosis kistik, yang dikenal sebagai regulator transmembrana fibrosis kistik (CFTR). Prefalensinya bervariasi menurut asal etnik populasi.
Manifestasi klinis dari fibrosis kistik merupakan gambaran dari kelainan multisystem, walaupun keterlibatan paru adalah dominan, dan sering dihubungkan dengan kematian pada pasien ini. Pasien mengeluh batuk yang kronik dan berdahak, dan sering berulang, menggambarkan infeksi saluran nafas yang memburuk. Selama fase eksaserbasi ini, batuk menjadi lebih parah dan dahak makin banyak dan purulen dan kadang-kadang bercampur darah. Pada keadaan ini juga sering dijumpai anoreksia, berat badan menurun dan demam. Faal paru terganggu dan dijmpai sesak nafas. Akhirnya keadaan ini akan menyebabkan hipertensi paru dan kor pulmunal, diikuti gagal nafas dan kematian.
Pada foto toraks menunjukan hiperinflasi, dengan diafragma yang mendatar. Dinding bronkus menebal, yang dalam potongan melintang terlihat seperti cincin, dan dalam posisi longitudinal terlihat seperti garis yang parallel. Pada penyakit yang lebih lanjut, perubahan-perubahan kistik akan dijumpai pada lobus atas. Jika kista penuh berisi pus, gabaran kista akan terlihat sebagai nodul.
3.    Abses paru
Bermacam-macam factor yang berinteraksi dalam terjadinya abses paru seperti daya tahan tubuh dan tipe dari mikroorganime pathogen yang menjadi penyebab. Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara yaitu aspirasi dan hematogen. Yang paling sering dijumpai adalah kelompok abses paru bronkogenik yang etrmasuk akibat aspirasi, stasis sekresi, benda sing, tumor dan striktur bronchial. Keadaan ini menyebabkan obstruksi bronkus dan terbawanya organisme virulen yang akan menyebabkan terjadinya infeksi pada daerah distal obstruksi tersebut. Abses jenis ini banyak terjadi pada pasien bronkitis kronik karena banyaknya mucus pada salran nafas bawahnya yang merupakan kultur media yang sangat baik bagi organisme yang teraspirasi.
Secara hematogen yang paling sering terjadi adalah akibat septikemi atau sebagian fenomena septic emboli, sekunder dari focus infeksi dari bagian lain tubuhnya seperti tricuspid valvule endocarditis. Penyebaran hematogen ini umumnya akan erbentuk abses multiple dan kecil-kecil adalah lebih sulit dari abses single walaupun ukrannya besar.
4.    Pneumonia
Pathogenesis pneumoni mencakup interaksi antara mikroorganisme penyebab yang masuk melalui berbaga jalan. Dengan daya tahan tubuh pasien. Kuman mencapai alveoli melalui inhalasi, aspirasi kuman orofaring, penyebarab hematogen dari focus infeksi lain, atau penyebaran langsung dari lokasi infeksi. Pada again saluran nafas bawah, kuman mengadapi daya tahan tubuh berupa system pertahanan mukosilier, daya tahan seluler makrofag alveolar, limfosit bronchial, dan neutrofil. Juga daya tahan humoral IgA dan IgG dari sekresi bronchial.
Terjadinya pneumonia tergantung pada virulensi mikroorganisme, tingkat kemudahan dan luasnya daerah paru yang terkena serta penurunan daya tahan tubuh. Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan imunitas yang jelas. Namun pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia didapati adanya 1 atau lebih penyakit dasar yang menggagu daya tahan tubuh. Factor predisposisi antara lain berupa kebiasaan meroko, pasca infeksi virus, penyakit jantung kronik diabetes mellitus, keadaan imunodefisiensi, kelainan atau kelemahan struktur organ dada dan penurunan kesadaran. Juga adanya tndakan invasive seperti infus, intubasi, trakeostomi, atau pemasangan ventilator. Perlu diteliti factor lingkinga khsusnya tempat kediaman misanya dirumah jompo, penggunaan antibiotic dan obat suntik IV, serta keadaan alkoholik yang meningkatkan kemungkinan terinfeksi kuman gram negatife. Anamnesis epidemiologi haruslah mencakup keadaan linkungan pasien, tempat yang dikunjungi dan kotak dengan orang atau binatang yang menderita penyakit yang serupa.
5.    Bronkhitis kronik
Penyempitan saluran nafas terjadi pada bronchitis kronik. Bila sudah timbul gejala sesak, biasanya sudah dapat dibuktikaan adanya tanda-tanda obstruksi. Pada bronchitis kronik sesak nafas terutama disebabkan karena perubahan pada saluran nafas kecil, yang diameternya kurang dari 2 mm, menjadi lebih sempit, berkelok-kelok dan kadang-kadang terjadi obliterasi. Penyempitan lumen terjadi juga oleh metaplasia sel goblet. Saluran nafas besar juga berubah, terutama karena hipertrofi dan hyperplasia kelenjar mucus, sehingga saluran nafas lebih menyempit.
Pada orang normal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal, ekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang, sehingga saluran nafas bagian bawah paru akan tertutup. Pada pasien bronchitis kronik, saluran nafas tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Cepatnya saluran nafas menutup serta dinding alveoli yang rusak, akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Tergantung pada rusaknya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang atau tidak ada, akan tetapi perfusi baik sehingga penyebaran udara pernafasan maupun aliran darah ke alveoli tidak sama dan merata. Atau dapat dikatakan juga tidak ada keseimbangan antara ventilasi dan perfusi dialveoli. Timbul hipoksia dan sesak nafas. Lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah paru dan polisitemia, terjadi hipertensi pulmonal, yang dalam jangka lama dapat menimbulkan kor-pulmonal
SUARA TAMBAHAN PARU
Terminologi suara tambahan paru merupakan hal yang kontroversial, menjadi perdebatan mulai dari pertama ditemukannya stetoskop oleh Laennec hingga sekarang. Laennec, seorang dokter Prancis, menggunakan istilah “rale” untuk semua bunyi abnormal paru, dengan klasifikasi: lembab (moist), mukus (mucous), sonor (sonorous), dan mencicit (sibilant). Pada prakteknya masa itu, karena pasien merasa tidak nyaman dengan miripnya istilah rale dengan death rattle, maka Laennec menggunakan istilah pengganti yaitu “rhoncus”. Tahun 1821,seorang dokter Inggris bernama John Forbes, menerjemahkan karya Laennec ke bahasa Inggris. Istilah rale dan rhoncus diterjemahkan menjadi 2 hal berbeda oleh Forbes, sehingga menjadi awal terjadinya perbedaan hingga sekarang. Salah satu rekomendasi berasal dari pertemua International Symposium on Lung Sounds (Tokyo, 1985) dengan konsensus terminologi bunyi tambahan paru yang membagi bunyi ini menjadi:
1. Bising tidak kontinyu (kurang dari 250 ms/2.5 detik)
a. Halus: frekuensi tinggi, amplitudo rendah, durasi pendek (fine crackles)
b. Kasar: frekuensi rendah, amplitudo tinggi, durasi panjang (coarse crackles)
2. Bising kontinyu (lebih dari 250 ms/2.5 detik)
a. Nada tinggi (wheezing)
b. Nada rendah (rhoncus)
Selain bising kontinyu dan tidak kontinyu, dikenal juga suara tambahan paru yang lain
yaitu stridor dan bunyi gesekan pleura (pleural friction rub).

Bising Tidak Kontinyu
Crackles (bunyi gemereletak) halus atau ronki basah halus, disebabkan oleh terbukanya alveoli yang tertutup waktu ekspirasi sebelumnya secara tiba-tiba, mungkin disebabkan tekanan antara jalan nafas yang terbuka dengan yang menutup dengan cepat menjadi sama sehingga jalan nafas perifer mendadak terbuka. Bunyi ini terjadi saat inspirasi, yang dapat terjadi saat jalan nafas perifer mendadak terbuka pada waktu daerah-daerah kolaps (atelektasis) terinflasi. Bising ini terjadi pada kelainan paru restriktif dan atau menunjukkan berkurangnya volume paru, seperti pada pneumonia, bronkitis, atau atelektasis. Bising ini juga dapat terdengar pada bronkiolitis dan asma bronkiale. Ronki basah halus yang terdengar pada daerah basal paru menunjukkan adanya edema paru. Pada pneumonia lebih spesifik bila bunyi gemereletak ini didapatkan pada akhir inspirasi (atau yang disebut krepitasi).
Crackles kasar atau ronki basah kasar, dihasilkan oleh gerakan udara melalui sekret tipis di bronkus atau bronkiolus. Terjadi pada awal inspirasi dan kadang waktu ekspirasi, bisa menghilang dengan perubahan posisi atau setelah batuk. Bunyi ini dapat dijumpai pada kelainan paru dengan sekresi lendir yang banyak, misalnya pada bronkitis kronis, bronkitis akut, bronkiektasi, atau fibrosis kistik.
Bising Kontinyu
Bunyi tambahan kontinyu akibat dari aliran udara yang cepat yang melewati jalan nafas yang mengalami obstruksi. Aliran udara yang lebih cepat akan menurunkan tekanan dinding lateral jalan nafas, dan menyebabkan dinding-dinding yang berhadapan terdorong saling merapat dan bersentuhan untuk waktu singkat. Akibatnya, aliran terganggu untuk waktu singkat dan tekanan jalan nafas meningkat. Jalan nafas kemudian kembali terbuka memungkinkan aliran udara kembali. Siklus ini berulang dengan cepat menyebabkan getaran dinding jalan nafas. Tinggi nada pada bunyi tambahan kontinyu ditentukan oleh hubungan antara kecepatan aliran dan derajat obstruksi. Lebih cepat aliran atau lebih rapat obstruksi menyebabkan bunyi dengan nada tinggi (disebut wheezing atau mengi). Bila aliran atau obstruksi kurang, maka terjadi bunyi dengan nada lebih rendah (disebut ronki atau ronki kering). Wheezing ditemui pada asma, emfisema dan bronkitis kronik, dan kadang ditemui pada edem paru. Ronki kering dijumpai pada bronkitis akut atau kronik dan bronkiektasis.
Stridor
Stridor adalah bunyi kontinyu yang dihasilkan oleh getaran jalan nafas ekstratoraks yang menyempit, dengan nada konstan. Hal ini terjadi karena karena tekanan jalan nafas distal dari obstruksi berkurang secara bermakna dalam hubungan dengan tekanan atmosfer di luar jalan nafas pada waktu inspirasi. Pada waktu ekspirasi, peningkatan tekanan jalan nafas menyebabkan gradien tekanan positif dari dalam ke luar jalan nafas dan obstruksi berkurang. Bila obstruksi menetap, stridor akan terdengar waktu inspirasi maupun ekspirasi. Penyebab stridor adalah sumbatan laring atau trakea, seperti pada keadaan epiglotitis, laringotrakeobronkitis akut (sindrom Croup), aspirasi benda asing, tumor, atau edema laring setelah ekstubasi.



Bunyi gesekan pleura
Bunyi ini berasal dari regangan mekanik pleura yang menyebabkan vibrasi dinding dada dan parenkim paru. Pada keadaan normal, lapisan pleura yang halus dan lembab yang bergesekan pada waktu bernafas tidak mengeluarkan suara. Bising ini bersifat non-musikal, mempunyai nada rendah, dan terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Bunyi ini terjadi pada pleuritis atau Schwarte. Setelah melakukan pemeriksaan, pemeriksa dapat mengambil kesimpulan apakah ada kelainan pada paru atau tidak. Sampaikan hasil pemeriksaan anda pada orang tua. Terakhir kali, ucapkan salam dan terima kasih pada orang tua dan pasien. Pemeriksa harus meyakinkan dirinya bahwa ia meninggalkan pasien dalam keadaan nyaman.

PEMERIKSAAN FISIK PADA BERMACAM KELAINAN PARU

Bronkitis
Bronkitis adalah peradangan atau inflamasi pada mukosa bronkus. Parenkim paru normal atau tidak terinfeksi. Manifestasi klinik yang tampak berasal dari hipersekresi dan terjadinya eksudat. Dahak yang terbentuk mula-mula kental, setelah beberapa hari berubah menjadi agak encer.
Etiologi bronkitis dapat dibagi menjadi:
1. Fisik: udara dingin/panas, asap, debu
2. Bahan kimia
3. Alergi
4. Infeksi: paling sering adalah virus, penyebab yang lain adalah bakteri, jamur, parasit
Melihat etiologi di atas dapat dimengerti bahwa demam tidaklah selalu menyertai bronkitis.\ Bronkitis biasanya tidak menimbulkan gejala klinis yang berat, dan biasanya tidak disertai sesak nafas maupun sianosis. Pada pemeriksaan paru, biasanya hanya didapatkan ronki basah kasar tanpa perubahan suara dasar nafas vesikuler. Pada perkusi maupun palpasi tidak didapatkan kelainan.

Asma Bronkiale
Asma merupakan penyakit paru obstruktif kronik episodik yang ditandai oleh hiperreaktivitas bronkus (menyebabkan bronkokonstriksi) dan inflamasi saluran nafas. Pada asma terjadi kesulitan bernafas terutama saat ekspirasi. Pasien lebih nyaman dalam keadaan tiduran setengah duduk atau bila serangan berat penderita akan menempatkan diri pada posisi tripod (kedua tangan berpegangan pada tepi tempat tidur supaya otot-otot pernafasan aksila bisa membantu pernafasan). Perabaan nadi pada serangan asma berat dapat didapatkan pulsus paradoksus. Pada inspeksi tampak penderita menggunakan otot-otot bantuan nafas, mungkin dengan posisi tripod. Bila berat dapat didapatkan sianosis dan nafas cuping hidung. Pada dada terdapat retraksi, dada berbentuk emfisematosa (penambahan diameter antero-posterior). Hipersonor didapatkan pada perkusi. Pada auskultasi didapatkan suara vesikuler dengan ekspirasi diperpanjang, ronki basah kasar, wheezing, dan ronki kering. Kadang-kadang juga didapatkan ronki basah halus dan krepitasi. Pada serangan berat wheezing tidak terdengar karena penyempitan bronkus yang hebat.
Pneumonia
Pneumonia adalah inflamasi atau peradangan yang terjadi pada parenkim paru atau alveoli. Pneumonia biasanya diawali dengan infeksi saluran nafas atas yang menimbulkan komplikasi. Sebab lain adalah tirah baring lama, sepsis, atau aspirasi. Perjalanannya tidak berlangsung tibatiba. Sarang-sarang radang merupakan infiltrat kecil-kecil di parenkim paru, lebih kurang mengikuti percabangan bronkus. Infiltrat-infiltrat ini dapat membentuk konsolidasi. Pneumonia lobaris terjadi bila radang paru mengenai satu lobus paru tertentu. Pneumonia merupakan sebab kematian tersering pada anak di negara berkembang selain diare. Pada pemeriksaan didapatkan sesak nafas, yang ditandai dengan adanya nafas cepat dan atau retraksi. Retraksi subkostal lebih spesifik untuk penanda pneumonia. Bila berat dapa  dijumpai sianosis. Palpasi taktil meningkat, demikian juga resonansi vokal meningkat (bronkofoni atau egofoni) karena adanya infiltrat dan konsolidasi yang meningkatkan penghantaran suara. Perkusi akan terdengar redup. Pada auskultasi didapatkan suara bronkial pada daerah paru yang terkena, karena adanya konsolidasi. Suara tambahan yang didapatkan adalah ronki basah halus yang timbul saat akhir inspirasi (krepitasi).
Bronkiolitis
Bronkiolitis adalah peradangan pada bronkiolus, ditandai dengan adanya penyempitan jalan nafas sekunder karena penumpukan sel-sel radang. Bronkiolitis merupakan penyakit paru yang hanya diderita anak umur kurang dari 2 tahun (tersering adalah 6 bulan-2 tahun), karena diameter bronkiolus yang relatif masih kecil, sehingga peradangan sedikit saja dapat menimbulkan sesak nafas. Penyebab utamanya adalah infeksi oleh RSV (Respiratory Syncitial Virus). Pemeriksaan fisik pada bronkiolitis serupa pada asma bronkiale, karena patofisiologinya hampir mirip, yaitu adanya penyempitan saluran nafas. Bedanya dengan asma adalah bahwa bronkiolitis tidak berespon terhadap pemberian inhalasi beta agonis atau adrenalin.
Emfisema
Pada emfisema pulmonum, alveoli amat melebar. Jaringan intraalveolar tipis atau malahan ada yang hilang. Jadi paru berbentuk lebih gembung dan lebih banyak mengandung udara, tetapi luas permukaan alveoli sangat berkurang. Ini menyebabkan pengembangan paru terbatas, sehingga terjadi sesak nafas. Pada inspeksi didapatkan bentuk dada emfisematosa, berbentuk tong, dengan ukuran lebar relatif lebih besar dibanding panjangnya, dengan posisi kosta mendatar. Pada perkusi didapatkan hipersonor, batas jantung sukar ditentukan. Pada auskultasi didapatkan vesikuler diperlemah.
Pneumothorax
Pneumothorax berarti ada udara di rongga pleura. Dalam keadaan normal, rongga pleura hampa udara, hanya terdapat sedikit sekali cairan di dalamnya. Pneumothorax dapat terjadi pada asma berat, emfisema, trauma dinding dada, atau efek samping dari ventilator. Pada umumnya pneumothorax bersifat akut dan unilateral. Penderita lebih senang berbaring pada sisi yang sakit karena paru yang sehat akan lebih mengembang sehingga dapat mengkompensasi paru sakit. Pada inspeksi didapatkan sela iga mencembung dan ada ketinggalan gerak. Pada palpasi leher didapatkan trakea bergeser ke arah yang sehat. Perkusi paru sakit didapatkan hipersonor. Pada auskultasi didapatkan vesikuler diperlemah.
Fibrosis Pulmonum
Pada fibrosis pulmonum, jaringan paru sehat diagnti oleh jaringan ikat. Biasanya terjadi pada proses kronik seperti pada tuberkulosis post primer dan pneumonia yang berlangsung lama. Adanya jaringan ikat pada paru akan membatasi pengembangan paru. Pada inspeksi didapatkan retraksi pada paru yang sakit dan ketinggalan gerak. Sela iga mencekung dan menyempit. Pada paru yang fibrosis didapatkan perkusi yang redup, dengan batas jantung bergeser ke arah paru yang sakit. Pada auskultasi didapatkan vekikuler yang melemah.
Pleuritis Eksudativa dan Schwarte
Pleuritis adalah peradangan pada pleura, dapat berlangsung akut maupun kronis. Pada inspeksi didapatkan penderita tampak nyeri, mungkin didapatkan ketinggalan gerak, redup absolut didapatkan pada perkusi. Dari auskultasi didapatkan vesikuler melemah.
Schwarte adalah penebalan jaringan pleura karena terbentuknya jaringan ikat, merupakan akibat dari pleuritis eksudativa, atau bila ada pyothorax dan hematothorax. Pada Schwarte pleura menebal dan mengkerut, karena itu waktu diam saja sudah nampak sebagai retraksi. Pleura yang kaku akan menahan pengembangan paru sehingga waktu inspirasi tampak retraksi dan ketinggalan gerak. Pada pemeriksaan auskultasi didapatkan vesikuler melemah.
Edema Paru
Edema paru merupakan timbunan cairan dalam alveoli, terjadi pada keadaan gagal jantung, overhidrasi, dan pneumonia. Gejala yang muncul adalah sesak nafas dan batuk. Pada
pemeriksaan fisik khas didapatkan ronki basah halus di bagian basal paru dengan suara vesikuler diperlemah.
Atelektasis
Atelektasis berarti kolapsnya alveoli paru sebagai akibat dari adanya cairan di rongga pleura yang banyak atau adanya sumbatan pada bronkus (misalnya pada sekresi lendir yang kental yang menyumbat bronkus). Pada pemeriksaan fisik didapatkan trakea bergeser ke arah paru yang sakit, ada ketinggalan gerak, perkusi redup, dan vesikuler diperlemah.

PRINSIP PENGATURAN PERNAPASAN
Pusat pernapasan dibagi menjadi tiga kelompok
1.      Kelompok pernapasan darah (dibagi bagian dursal medula), terutama menyebabkan inspirasi
2.      Kelompok pernapasan ventral (ventrolateral medula) terutama menyebabkan ekspirasi
3.      Pusat pneumotaksik (dorsal bagian superior paru) terutama mengatur kecepatan dan kedalaman nafas.
Ketiga pusat ini, berperan langsung dalam pengaturan pernapasan  normal, namun pada berbagai kondisi lain yang memicu stess pernafasan, ketiga pusat tersebut lebih jauh hanya akan aktif jika dirangsang oleh pusat tambahan lainnya , yakni :
a.    Area kemosensitif; terletak bilateral, dibawah permukaan ventral medula yang dipengaruhi
b.    Sistem kemoreseptor; terletak diluar otak, dibadan karotis dan juga dibadan aorta.
Kedua area ini sangat sensitif terhadap perubahan PCO2&PO2 dalam darah, dan kemudian merangsang bagian lain pada pusat pernafasan ( Guyton & hall 2007)

Dispnea dapat terjadi sebagai akibat dari ketiga faktor dibawah ini :
-          Kerja otot pernafasan yang lebih untuk dapat mengembangkan paru
-          Peningkatan PCO2 dalam darah
-          Kondisi mental atau emosi pasien (Guyton & hall 2007)
Karena dispnea merupakan gejala kelainan baik pada paru, atau pada gagal jantung dan penyakit lain seperti penyakit  katup jantung. Maka kelainan dapat berada pada tingkat tertentu di sistem organ berkaitan. Kelainan mungkin terdapat di satu bagian, atau bahkan melibatkan berbagai tingkatan. Sebagai contoh penyakit paru, dapat dilakukan doservasi kelainan anatomis pada penyakit seperti bronkitis, emfisema paru kronik, atau bronkiektasis. Pada bronkitis,  kelainan terletak pada bronkus, dan umumnya ditandai adanya kompleks peradangan serta sekresi mukus yang berlebihan, sedangkan pada emfisema kelainan terletak ditingkat  yang lebih distal, yakni bronkiolus respiratoriuys, hingga alveolus. Bronkiektasis merupakan kondisi lain, kelainannya terletak pada bronkus hingga bronkiolus terminal. Sesuai perjalanan penyakitnya, penyakit – penyakit ini dapat ditemukan secara bersamaan.
Bila dispnea dikaitkan dengan kegagalan mekanisme pompa jantung, maka tentunya kelainan terletak di jantung, namun perlu ditekankan, bahwa kelainan tersebut akan menimbulkan konsekuensi berupa kerusakan bagian paru . Seperti penyakit gagal jantung kongestif & slenosis mitral, menumpuknya darah dalam vena pulmonal akan sangat meningkatkan tekanan vena tersebut. Sebagai hasilnya, pembuluh yang lebih kecil akan ikut teregang, sehingga ditingkat alveoli, akan terjadi edema.
Namun demikian, harap diketahui bahwa dispnea dapat juga ditemukan dalam keadaan normal normal. Pada kondisi tertentu, yang berkaitan dengan status emosional seseorang dispnea dapat timbul sebagai akibat adanya stress mental yang mungkin tidak menandakan adanya kerusakan baik pada paru maupun jantung
ASMA
Asma ditandai dengan kontraksi spastik otot polos bronkiolus, yang menyumbat bronkiolus secara parsial dan menyebabkan kesukaran bernapas yang hebat. Hal ini terjadi pada 3 sampai 5 persen dari seluruh manusia pada suatu saat dalam hidupnya.
            Penyebab asma yang umum ialah hipersensitivitas kontraktil bronkiolus sebagai respon terhadap benda-benda asing di udara. Pada pasien di bawah usia 30 tahun, sekitar 70 persen asma disebabkan oleh hipersensitivitas alergik, terutama hipersensitivitas terhadap serbuk sari tanaman. Pada pasien yang lebih tua, penyebabnya hampir selalu hipersensitivitas terhadap bahan iritan nonalergenik di udara, seperti iritan pada kabut asap.
            Reaksi alergi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi menurut cara berikut ini: seseorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar, dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila orang tersebut bereaksi dengan antigen spesifik yang memicu terbentuknya antibodi tersebut pada pertama kali. Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat dalam interstitial paru yang berhubungan erat dengan bronkiolus dan bronkus kecil. Bila seseorang yang menderita asma menghirup serbuk sari yang sensitif baginya (telah terbentuk antibodi IgE terhadap serbuk sari pada orang tersebut), serbuk sari bereaksi dengan antibodi-terlekat sel mast dan menyebabkan sel mast mast mengeluarkan berbagai macam zat. Diantaranya adalah (a) histamin, (b) zt nafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan campuran leukotrien), (c) faktor kemotaktik eosinofilik, dan (d) bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor ini, terutama subtansi anafilaksis yang bereaksi lambat, akan menghasilkan (1) edema lokal pada dinding bronkiolus kecil maupun sekresi mukus yang kental ke dalam lumen bronkiolus, dan (2) spasme otot polos bronkiolus. Oleh karean itu, tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
            Seperti yang telah dibahas. Bahwa pada asma, diameter bronkiolus lebih banyak berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi, karena bronkiolus kolaps selama upaya ekspirasi akibat penekanan pada bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus pada paru asmatik sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pasien asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat tetapi sukar ssekali melakukan ekspirasi. Pengukuran klinis memperlihatkan (1) penurunan sangat besar laju ekspirasi maksimum dan (2) berkurangnya volume ekspirasi terukur (timed expiratory volume). Juga, semua keadaan ini menyebabkan dispnea, atau “air hanger”.
            Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi meningkat terutama selama serangan asma akut akibat kesukaran mengeluarkan udara dari paru. Juga, setelah bertahun-tahun, rongga dada menjadi besar secara permanen, mengakibatkan “dada tong (barrel chest)”, dan kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi  meningkat secara permanen.
BRONKITIS
Definisi
 Bronkitis (Bronchitis; Inflammation - bronchi) adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru).
Penyakit bronkitis biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius. 
Bronkitis
Penyebab
Penyebab Bronkitis infeksiosa adalah virus, bakteri dan (terutama) organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia). Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru dan saluran pernafasan menahun. 
Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari:
-          Sinusitis kronis
-          Bronkiektasis
-          Alergi
-          Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak. 
Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh: 
- Berbagai jenis debu 
- Asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik, klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromin 
- Polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida 
- Tembakau dan rokok lainnya. 


Gejala
Gejala bronkitis berupa: 
- batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan) 
- sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan 
- sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu) 
- bengek 
- lelah 
- pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan 
- wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan 
- pipi tampak kemerahan 
- sakit kepala 
- gangguan penglihatan. 
Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. 
Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau. 
Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu. 
Sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat. Sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama setelah batuk. Bisa terjadi pneumonia.

Diagnosa
Diagnosis bronkitis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala, terutama dari adanya lendir. Pada pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi ronki atau bunyi pernafasan yang abnormal. 
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: 
- Tes fungsi paru-paru 
- Gas darah arteri 
- Rontgen dada.

Pengobatan
      Pengobatan bronkitis dilakukan untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa bisa diberikan Aspirin atau asetaminofen; kepada anak-anak sebaiknya hanya diberikan asetaminofen. Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan.
Berikut penggunaan obat untuk bronkitis :
Antimikroba
Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan demamnya tetap tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru. Penelitian telah difokuskan pada individu sehat (kecuali pasien dengan asma) atau pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Antimikroba tampak memberikan manfaat yang kecil untuk merawat pasien dengan PPOK, dan trimethroprim-sulfamethoxazole tetap menjadi pilihan yang baik dan murah. Amoksisilin dan doksisilin merupakan alternative yang baik. Oleh karena itu memperluas penggunaan antimikroba pada pasien asma dan pasien dengan cadangan kardiopulmoner yang terbatas adalah masuk akal. Anti mikroba yang bisa digunakan adalah AmoxicillinAmoxicullin dan clavulanat,  ErythromycinAzithromycinTetracyclineCefditoren,Trimethoprin sulfamethoxazoleLevofloxacinClarithromycin dan Doxycycline.
Jika gejalanya menetap atau berulang atau jika bronkitisnya sangat berat, maka dilakukan pemeriksaan biakan dari dahak untuk membantu menentukan apakah perlu dilakukan penggantian antibiotik.

Antitusiv dan ekspektoran
Ekspektoranmemberikan efek yang baik.
      Guaifenesin dengan dextromethorphan, senyawa ini mengobati batuk kecil yang disebabkan dari iritasi bronkus dan tenggorokan. Codein/guaifenesin, Prototipe antitusif kodein telah digunakan dengan sukses dalam beberapa batuk kronis dan yang diinduksi, tetapi data klinis kurang memadai untuk infeksi saluran pernapasan atas.

Bronkodilator
Penelitian telah menunjukkan keuntungan untuk menggunakan bronkodilator dan lebih baik dibanding antibiotic untuk menghilangkan gejala bronchitis.
Bronkodilator ynag digunakan untuk bronkitis antara lain Salbutamol, Metaproterenol sulfat, Theophylline,  dan Ipratropium.

Kortikosteroid sistemik (PrednisolonePrednisone)
      Untuk pasien dengan kekambuhan akut dari bronchitis kronis, cara cepat pemberian kortikosteroid sistemik dapat diberikan dan terbukti efektif.

Kortikosteroid inhalasi (Beclomethasone, FluticasoneBudesonide)
 Kortikosteroid adalah obat anti inflamasi paling ampuh. Bentuk inhalasi secara topical aktif, diserap dengan tidak baik, dan sering menyebabkan efek samping. Pada pasien bronchitis kronis yang stabil, pengobatan dengan agonis beta kerja panjang ditambah dengan kortikosteroid inhalasi dapat mengatasi batuk kronis.

Anti virus (Zanamivir, Rimantadine, Oseltamivir dan Peramivir)

Analgesik antipiretik (IbuprofenAcetaminophen)
 Analgesik dan antipiretik sering membantu dalam mengurangi nyeri dan demam akibat penyakit.
Pencegahan
Jika Anda telah sering mengalami serangan bronkitis atau berulang, penyebabnya mungkin sesuatu di lingkungan Anda. Lokasi yang dingin, lembab - khususnya dikombinasikan dengan polusi udara atau asap rokok - dapat membuat Anda lebih rentan terhadap bronkitis akut. Ketika masalah menjadi berat, Anda mungkin perlu untuk mempertimbangkan perubahan di mana dan bagaimana Anda hidup dan bekerja. Langkah - langkah ini juga dapat membantu menurunkan risiko bronkitis dan melindungi paru-paru secara umum:
1.      Hindari merokok dan menjadi perokok pasif. Asap tembakau meningkatkan risiko bronkitis kronis dan emphysema.
2.      Cobalah untuk menghindari orang-orang yang telah pilek atau flu. Semakin sedikit Anda terkena virus yang menyebabkan bronkitis, semakin rendah risiko Anda mendapatkannya. Hindari kerumunan orang selama musim flu.
3.      Dapatkan vaksin flu tahunan. Banyak kasus bronkitis akut hasil dari influenza, virus. Mendapatkan vaksin flu tahunan dapat membantu melindungi Anda dari flu, yang pada gilirannya, dapat mengurangi risiko bronkitis.
4.      Tanyakan kepada dokter tentang pneumonia shot. Jika usia Anda lebih dari 60 tahun atau Anda memiliki faktor risiko seperti diabetes, penyakit jantung dan paru-paru, perlu dipertimbangkan melakukan shot bronkitis. Selain itu, dikenal sebagai vaksin Prevnar dapat membantu melindungi anak-anak terhadap pneumonia. Kami menganjurkan untuk semua anak di bawah usia 2 tahun dan untuk anaku usia 2 hingga 5 tahun yang berada pada risiko tertentu penyakit pneumokokus, seperti mereka yang memiliki kekurangan sistem kekebalan tubuh, asma, penyakit jantung atau anemia sel sabit. Efek samping dari vaksin pneumokokus biasanya kecil dan ringan termasuk rasa nyeri atau bengkak di tempat suntikan. Jika Anda memiliki radang paru-paru atau lebih lima tahun yang lalu menjalankan shot, dokter anda dapat merekomendasikan bahwa Anda mendapatkan satu lagi.
5.      Cuci tangan atau menggunakan sanitizer tangan secara teratur. Untuk mengurangi risiko terkena infeksi virus, sering mencuci tangan anda dan membiasakan menggunakan sanitizer tangan. Dan jangan menggosok hidung atau mata Anda.
6.      Ketika praktek, memakai masker. Jika Anda harus menghabiskan banyak waktu di sekitar orang lain yang batuk dan bersin, ide yang baik untuk memakai masker yang menutupi mulut dan hidung untuk mengurangi risiko infeksi.




DAFTAR PUSTAKA

Guyton & Hall, BUKU AJAR FISIOLOGI KEDOKTERAN. EGC. Jakarta: 2006
Price & Wilson. PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Dasar-dasar Penyakit. EGC. Jakarta: 2008
Sudoyo, Aru W. BUKU AJAR ILMU PENYAKIT DALAM JILID III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Jakrata: 2007

0 komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

 
Top