Kasus
Kedua Kaki Bengkak
Seorang laki-laki berusia 60 tahun
datang ke puskesmas dengan keluhan kedua kaki bengkak sejak sebulan yang lalu.
Keluhan tidak berkurang dengan perubahan posisi. Keluhan ini hilang timbul
sejak setahun yang lalu. Selain itu juga disertai badan mudah lelah dan pusing.
Pasien pernah diberi obat digoksin 0,25 mg dan merasa keluhannya berkurang.
Pasien memiliki tekanan darah tinggi tidak terkontrol. Hasil pemeriksaan fisik
ditemukan JVP meningkat, ronki basah basal paru kanan dan kiri, batas jantung
bergeser ke kaudolateral, pitting oedem kedua
kaki.
STEP I
1.
Kaki bengkak : meningkatnya
cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler yang disertai dengan penimbunan cairan
abnormal dalam ruang interstisial.
2.
Obat digoksin : obat yang
berfungsi sebagai vasodilator dan mempunyai efek ionotropik.
Obat yang digunakan dalam terapi untuk meninggikan fungsi kerja
jantung.
3.
Pitting oedem : gejala kulit
yang mencekung ketika ditekan dan waktu yang dibutuhkan untuk kembali normal
> lama
Edema yang akan tetap cekung setelah penekanan jari baru jelas
terlihat setalah retensi cairan.
4.
Kaudolateral : bawah lateral
(menjauhi garis tengah tubuh)
5.
JVP (Jugularis Vein Prassure) : tekanan pada vena jugularis yang
menggambarkan kontraktilitas maupun tekanan pada atrium kanan.
6.
Ronki basah basal : suara napas tambahan yang didapat dari pemeriksaan
auskultasi pada daerah basal paru.
STEP II
1.
Apa yang menyebabkan bengkaknya kaki pasien pada kasus ini?
2.
Bagaimana teknik pemeriksaan JVP?
3.
Jelaskan mengapa pada sekenario batas jantung pasien bergeser ke
kaudolateral?
4.
Mengapa bisa ditemukan ronki basah basal?
5.
Adakah hubungan riwayat hipertensi pasien dengan kondisinya saat
ini? jelaskan!
6.
Mengenai obat digoksin jelaskan cara kerja, dosis, dan aspek-aspek
lain yang terkait?
7.
Jelaskan pula mengapa pasien mudah lelah dan pusing!
8.
Kategori hipertensi!
9.
Faktor risiko penyakit ini!
10.
Jabarkan anatomi dan fisiologi dari system kardiovaskuler!
STEP III
10.
Anatomi
Letak jantung dirongga dada sebelah kiri diatas diafragma dalam petricardium.
Batas atas : sternum
Punggung jantung ; SIC 3 linea parasternal sinistra
Apeks ; SIC ± 5 ± 2 radial linea midklavikula sinistra
Kanan : SIC 4 linea parasternal dekstra.
Dibungkus oleh pericardium yang terdiri dari :
-
Pericardium parietal
-
Pericardium visceral
Lapisan jantung :
-
Epikardium : lapisan serosa
-
Miokardium : otot jantung
-
Endokardium : endotel dan otot polos
Jantung memuliki 4 ruangan :
-
Atrium kanan
-
Ventrikel kanan
-
Atrium kiri
-
Ventrikel kiri
1.
Penimbunan cairan pada kedua kaki?
Adanya gangguan fungsi jantung kanan sebagai pompa sehingga darah
tidak dapat dialirkan dengan sempurna, sebagai akibatnya sebagian darah akan
terakumulasi dalam vena-vena pada kaki
Gangguan kontraktisitas jantung à cardiac outpun menurun à kompensasi à ginjal à retensi cairan à reabsosrbsi Na meningkat à cairan meningkat à kembali
2.
Cara pemeriksaan JVP :
-
Siapkann 2 buah penggaris.
-
Baringkan pasien, bebaskan pakaian yang menghalangi leher dan dada.
-
Kepala diposisikan pada sudut 300, miringkan kearah
kiri.
-
Palpasi vena jugularis, coba rasakan palpasi yang paling kuat.
-
Letakan penggaris pertama pada posisi horizontal dari letak pulsasi
terkuat sementara penggaris kedua pada posisi vertical diatas manubrium sterni.
-
Ukur dan catat hasilnya, sudut 300 = 6 cm dan sudut 450
= 4-5 cm.
3.
Mengapa batas jantung bergeser?
Sebagai mekanisme kompensasi, ventrikel kiri akan mengalami
hipertensi sehingga batas jantung bergeser ke kaudolateral.
4.
Ronki basah terjadi karena adanya gangguan jantung à kegagalan mekanisme pompa à darah kembali ke paru-paru à mengakibatkan edema paru.
5.
Hubungan riwayat hipertensi dengan gejala pasien
Hipertensi sangat meningkat
beban kerja jantung, sebagai akibatnya terjadilah hipertrofi juga diikuti manifestasi
klinis.
6.
Digoksin golongan digitalis
Dosis : gejala ringan : 0,125 – 0,25 mg/hr
Gejala berat : 0,5
– 0,75 mg/8 jam 3 dosis
Indikasi : gagal jantung kongestif, takikardi, supraventrikular
paroksismal.
Cara kerja : bekerja dengan memperberat kontraksi otot jantung
dengan mengatur sinyal refleksi untuk mengatur detak jantung.
Efek samping : diare, mual, muntah, penglihatan kabur, sakit
kepala.
Disorientasi
irama jantung yang jarang, alergi kulit hebat.
STEP IV

STEP V
1.
Kriteria ringan dan berat (digoksin).
Apabila terjadi intoksikasi, bagaimana terapinya?
2.
7, 8, 9, 10 (fisiologi).
3.
Manifestasi klinis gagal jantung.
a.
Anamnesis
b.
Pemeriksaan Fisik
c.
Pemeriksaan penunjang
4.
Tipe gagal jantung.
5.
Gagal jantung.
STEP VI
Belajar mandiri
STEP VII
ANATOMI JANTUNG
Jantung adalah organ berotot yang berongga pada sistem sirkulasi yang
secara teratur memompa darah ke seluruh tubuh. Jantung terletak di dalam dada
di antara kedua paru, di belakang sternum, dan di atas diafragma. Ukurannya
kira-kira satu kepalan, dan berat ±250-300 gram.
Jantung, yang berfungsi sebagai
pompa, terdiri atas empat ruangan, yaitu atrium kanan, ventrikel kanan, atrium
kiri, dan ventrikel kiri. Atrium, ruang atas pada jantung, lebih kecil daripada
ventrikel, ruang bawah pada jantung. Letak jantung kira kira berotasi 30
derajat ke lateral kiri, sehingga ventrikel kanan adalah struktur jantung yang
paling anterior. Ventrikel kiri tebalnya kurang lebih dua kali tebal ventrikel
kanan, karena ventrikel kiri bekerja lebih berat, yaitu mendorong darah ke
seluruh tubuh, sedangkan ventrikel kanan hanya mendorong darah ke paru-paru
saja.
Berikut ini akan dijelaskan bagian-bagian dari jantung :
- Arteri coronaria
Jantung merupakan organ yang tersusun atas
jaringan otot jantung yang selalu berkontraksi dan relaksasi. Oleh karena itu,
jantung harus mendapat oksigen dan nutrisi. Arteri coronaria adalah saluran
yang membawa oksigen dan nutrisi pada jaringan otot jantung.
- Vena cava superior
Vena cava superior merupakan satu
dari dua vena utama yang membawa darah yang rendah oksigen dari seluruh tubuh
ke jantung. Vena vena dari kepala dan tubuh bagian atas menuju ke vena cava,
yang berakhir pada atrium kanan.
- Vena cava inferior
Vena vena dari kaki dan tubuh bagian
bawah menuju ke vena cava, yang berakhir pada atrium kanan.
- Aorta
Aorta merupakan saluran darah yang terbesar
dalam tubuh. Diameternya kira-kira sebesar ibu jari. Aorta membawa darah yang
kaya oksigen dari ventrikel kiri ke seluruh tubuh.
- Arteri pulmonalis
Arteri pulmonalis adalah saluran
yang membawa darah kurang oksigen dari ventrikel kanan ke paru paru. Ini adalah
satu-satunya arteri yang tidak membawa darah yang kaya oksigen.
- Vena pulmonalis
Vena pulmonalis adalah saluran yang
membawa darah kaya oksigen dari paru-paru ke atrium kiri. Ini adalah
satu-satunya vena yang membawa darah yang kaya oksigen.
- Atrium kanan
Atrium kanan menerima darah yang
kurang oksigen dari tubuh melalui vena cava superior dan vena cava inferior. SA
node mengirim impuls yang menyebabkan jaringan otot jantung di atrium
berkontraksi secara teratur. Katup trikuspid, yang memisahkan atrium kanan dan
ventrikel kanan, membuka dan darah yang kurang oksigen yang telah terkumpul di
atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan.
- Ventrikel kanan
Ventrikel kanan menerima darah yang kurang
oksigen dari atrium kanan. Katup pulmonal menutup, sehingga darah yang sedang
mengisi ventrikel kanan tidak mengalir ke arteri pulmonalis. Setelah ventrikel
kanan terisi penuh, tekanan akan naik melebihi tekanan pada arteri pulmonalis,
sehingga katup pulmonal terbuka, ventrikel kanan berkontraksi memompa darah ke arteri
pulmonalis, dan katup trikuspid menutup mencegah darah kembali ke atrium kanan.
- Atrium kiri
Atrium kiri menerima darah kaya
oksigen dari paru melalui vena pulmonalis. Kontraksi atrium dicetuskan oleh SA
node, sehingga darah mengalir ke ventrikel kiri melalui katup mitral.
- Ventrikel kiri
Ventrikel kiri menerima darah yang
kaya oksigen dari atrium kiri. Darah melewati katup mitral menuju ke ventrikel
kiri. Katup aorta menutup, sehingga darah yang sedang mengisi ventrikel kiri
tidak mengalir ke aorta. Setelah ventrikel kiri terisi penuh, tekanan akan naik
melebihi tekanan aorta, sehingga katup aorta akan terbuka, ventrikel kiri
berkontraksi memompa darah ke seluruh tubuh, dan katup mitral menutup, mencegah
darah kembali ke atrium kiri.
- Muskulus papilaris
Muskulus papilaris terletak di
bagian bawah pada dinding dalam ventrikel. Muskulus papilaris terhubung ke
chorda tendinae, yang menempel pada katup trikuspid dan katup mitral. Kontraksi
muskulus papilaris akan menutup katup ini, dan ketika relaksasi akan membuka
katup ini.
- Chorda tendinae
Chorda tendinae adalah tendon yang
menghubungkan muskulus papilaris ke katup trikuspid pada ventrikel kanan, dan
katup mitral pada ventrikel kiri. Ketika muskulus papilaris kontraksi dan
relaksasi, tegangan pada chorda tendinae juga akan meninggi dan menurun, yang
menyebabkan katup itu menutup dan membuka.
- Katup trikuspid
Katup trikuspid memisahkan atrium kanan dan
ventrikel kanan. Katup trikuspid membuka sehingga darah yang kurang oksigen
bisa masuk ke ventrikel kanan dari atrium kanan. Katup trikuspid akan menutup
saat ventrikel kanan kontraksi, mencegah darah balik kembali ke atrium kanan.
- Katup mitral
Katup mitral memisahkan atrium kiri
dan ventrikel kiri. Katup mitral membuka sehingga darah yang kaya oksigen bisa
masuk ke ventrikel kiri dari atrium kiri. Katup mitral akan menutup saat
ventrkel kiri kontraksi, mencegah darah balik kembali ke atrium kiri.
- Katup pulmonal
Katup pulmonal memisahkan ventrikel
kanan dari arteri pulmonalis. Ketika ventrikel kontraksi, katup pulmonal
terbuka, sehingga darah kurang oksigen yang terkumpul di ventrikel kanan
mengalir ke paru. Katup pulmonal menutup ketika ventrikel relaksasi, mencegah
darah kembali ke jantung.
- Katup aorta
Katup aorta memisahkan ventrikel
kiri dari aorta. Ketika ventrikel kontraksi, katup aorta terbuka, sehingga
darah kaya oksigen yang terkumpul di ventrikel kiri mengalir ke seluruh tubuh.
Katup aorta menutup ketika ventrikel relaksasi, mencegah darah kembali ke
jantung.

Gambar 1
Anatomi Jantung
FISIOLOGI JANTUNG
Jantung berfungsi sebagai pompa.
Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik masuk ke atrium kanan melalui
vena-vena kava. Darah yang masuk ke atrium kanan kembali dari jaringan tubuh,
telah diambil oksigennya dan ditambahi karbondioksidanya. Darah yang mengalir
mengalami deoksigenasi parsial tersebut mengalir dari atrium kanan ke dalam
ventrikel kanan, yang memompanya ke luar melalui arteri pulmonalis ke paru.
Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah ke dalam sirkulasi paru. Di
dalam paru, darah kehilangan karbondioksida dan menyerap oksigen segar sebelum
dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Darah kaya oksigen yang
kembali ke atrium kiri ini kemudian mengalir ke dalam ventikel kiri, yang
berfungsi mendorong darah ke semua sistem tubuh kecuali paru. Jadi, sisi kiri
jantung memompa darah ke dalam sirkulasi sistemik. Arteri besar yang membawa
darah menjauhi ventrikel kiri adalah aorta. Aorta bercabang menjadi arteri
besar untuk memperdarahi berbagai jaringan tubuh.
Berbeda dengan sirkulasi pulmonalis,
yang seluruh darahnya mengalir melalui paru, sirkulasi sistemik dapat dilihat
sebagai rangkaian jalur-jalur paralel. Sebagian darah yang dipompakan ke luar
oleh ventrikel kiri menuju ke otot-otot, sebagian ke ginjal, sebagian ke otak,
dan seterusnya. Jadi, keluaran ventrikel kiri tersebar, sehingga tiap bagian
tubuh menerima pasokan darah segar. Jaringan mengambil oksigen dari darah dan
menggunakannya untuk mengoksidasi zat-zat gizi untuk menghasilkan energi. Dalam
prosesnya, sel-sel jaringan membentuk karbondioksida sebagai produk buangan
yang ditambahkan ke darah. Darah, yang sekarang secara parsial kekurangan oksigen
dan mengandung karbondioksida yang meningkat, kembali ke sisi kanan jantung.
Kedua sisi jantung secara bersamaan memompa darah
dalam jumlah yang sama. Volume darah beroksigen rendah yang dipompa ke paru
oleh sisi kanan jantung segera memiliki volume yang sama dengan darah
beroksigen tinggi yang di pompa ke jaringan oleh sisi kiri jantung. Sirkulasi
paru adalah sistem yang memiliki tekanan dan resistensi yang rendah, sedangkan
sirkulasi sistemik adalah sistem dengan tekanan dan resistensi yang tinggi.
Oleh karena itu, walaupun sisi kiri dan kanan jantung memompa darah dalam
jumlah yang sama, sisi kiri melakukan kerja yang lebih besar karena ia memompa
volume darah yang sama dengan resistensi tinggi. Dengan demikian, otot jantung
di sisi kiri jauh lebih tebal daripada otot di sisi kanan, sehingga sisi kiri
adalah pompa yang lebih kuat.
Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah
tetap dari vena ke atrium ke ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung
memastikan darah mengalir satu arah. Katup katup terletak sedemikian rupa,
sehingga mereka membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan tekanan.
Gradien tekanan ke arah depan mendorong katup terbuka, sementara gradien
tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup. Gradien ke arah belakang
dapat mendorong katup menutup, tetapi tidak dapat membukanya.
Dua katup jantung, yaitu katup atrioventrikel
kanan dan kiri, masing masing terletak di antara atrium dan ventrikel kanan dan
kiri. Katup katup ini mengizinkan darah mengalir dari atrium ke ventrikel
selama pengisian ventrikel, tetapi mencegah aliran balik darah dari ventrikel
ke atrium ketika pengosongan ventrikel. Apabila peningkatan tekanan ventrikel
tidak menyebabkan katup AV tertutup sewaktu ventrikel berkontraksi untuk
mengosongkan isinya, banyak darah akan terdorong kembali ke dalam atrium dan
vena dan tidak dipompa ke dalam arteri. Katup AV kanan juga disebut katup trikuspid
karena terdiri dari tiga daun katup. Katup AV kiri yang terdiri dari dua daun
katup disebut juga katup mitralis.
Walaupun tidak terdapat katup antara atrium
dan vena, aliran balik darah dari atrium ke vena biasanya tidak menimbulkan
masalah, karena tekanan atrium biasanya tidak jauh lebih besar daripada tekanan
vena, dan tempat vena kava memasuki atrium biasanya tertekan selama atrium
berkontraksi.

Gambar 2 Aliran Listrik Pada Jantung
Impuls jantung berasal dari SA node, pemacu
jantung, yang terletak di atrium kanan pada vena cava superior. SA node pada
manusia berbentuk seperti bulan sabit dan memiliki ukuran sekitar panjang 15 mm
dan lebar 5 mm. SA node memiliki kecepatan depolarisasi spontan ke ambang yang
tertinggi, yaitu 70-80 kali per menit. Setelah dicetuskan, potensial aksi
menyebar ke seluruh atrium kanan dan kiri melalui penyebaran impuls dari sel ke
sel melalui gap junction. Impuls berjalan dari atrium ke dalam ventrikel
melalui AV node, satu satunya titik kontak listrik antara kedua ruangan
tersebut. Potensial aksi berhenti sebentar di AV node, unutk memastikan bahwa
kontraksi atrium mendahului kontraksi ventrikel agar pengisian ventrikel
barlangsung sempurna. Impuls kemudian dengan cepat berjalan ke septum antar
ventrikel melalui berkas his dan secara cepat disebarkan ke seluruh miokardium
melalui serat serat purkinje. Sel sel ventrikel lainnya diaktifkan melalui
penyebaran impuls dari sel ke sel melalui gap junction. Dengan demikian, atrium
berkontraksi sebagai satu kesatuan, diikuti oleh kontraksi sinkron ventrikel
setelah suatu jeda singkat.
HIPERTENSI
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana
dijumpai tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau lebih untuk usia 13-50 tahun
dan tekanan darah mencapai 160/95 mmHg untuk usia di atas 50 tahun. Dan harus dilakukan pengukuran tekanan darah minimal sebanyak dua
kali untuk lebih memastikan keadaan tersebut. (WHO, 2001).
Untuk menilai apakah seseorang itu
menderita penyakit hipertensi atau tidak haruslah ada suatu standar nilai ukur
dari tensi atau tekanan darah. berbagai macam klasifikasi hipertensi yang
digunakan di masing-masing negara seperti klasifikasi menurut Joint National
Committee 7 (JNC 7) yang digunakan di negara Amerika Serikat,
Klasifikasi menurut Chinese Hypertension Society yang
digunakan di Cina, Klasifikasi menurut European Society of Hypertension (ESH)
yang digunakan negara-negara di Eropa, Klasifikasi menurut International Society
on Hypertension in Blacks (ISHIB) yang khusus digunakan untuk warga
keturunan Afrika yang tinggal di Amerika. Badan kesehatan dunia, WHO juga
membuat klasifikasi hipertensi.
Di Indonesia sendiri berdasarkan
konsensus yang dihasilkan pada Pertemuan Ilmiah Nasional Pertama Perhimpunan
Hipertensi Indonesia pada tanggal 13-14 Januari 2007 belum dapat membuat
klasifikasi hipertensi sendiri untuk orang Indonesia. Hal ini dikarenakan data
penelitian hipertensi di Indonesia berskala nasional sangat jarang.
Karena itu para pakar hipertensi di
Indonesia sepakat untuk menggunakan klasifikasi WHO dan JNC 7 sebagai
klasifikasi hipertensi yang digunakan di Indonesia.
Klasifkasi hipertensi menurut WHO
Kategori
|
Sistol
(mmHg)
|
Diastol
(mmHg)
|
Optimal
|
< 120
|
< 80
|
Normal
|
<
130
|
<
85
|
Tingkat 1 (hipertensi ringan)
|
140-159
|
90-99
|
Sub grup :
perbatasan
|
140-149
|
90-94
|
Tingkat
2 (hipertensi sedang)
|
160-179
|
100-109
|
Tingkat
3 (hipertensi berat)
|
≥ 180
|
≥ 110
|
Hipertensi
sistol terisolasi
|
≥ 140
|
< 90
|
Sub grup :
perbatasan
|
140-149
|
< 90
|
Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7
Kategori
|
Sistol
(mmHg)
|
Dan/atau
|
Diastole
(mmHg)
|
Normal
|
<120
|
Dan
|
<80
|
Pre hipertensi
|
120-139
|
Atau
|
80-89
|
Hipertensi tahap 1
|
140-159
|
Atau
|
90-99
|
Hipertensi tahap 2
|
≥ 160
|
Atau
|
≥ 100
|
Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi
Indonesia
Kategori
|
Sistol (mmHg)
|
Dan/atau
|
Diastole (mmHg)
|
Normal
|
<120
|
Dan
|
<80
|
Pre hipertensi
|
120-139
|
Atau
|
80-89
|
Hipertensi tahap 1
|
140-159
|
Atau
|
90-99
|
Hipertensi tahap 2
|
≥ 160
|
Atau
|
≥ 100
|
Hipertensi sistol terisolasi
|
≥ 140
|
Dan
|
<
90
|
GAGAL JANTUNG
Gagal jantung merupakan masalah dunia luas,
tetapi hanya sedikit data akurat yang tersedia. Penyebab tersering gagal
jantung pada negara industrial adalah ischemic cardiomyopathy.
Prognosis dari gagal jantung secara umum jelek jika penyebab dasarnya tidak
diatasi dengan baik. Setengah dari pasien yang di diagnosa gagal jantung
meninggal dalam 4 tahun dan pasien-pasien dengan gagal jantung berat lebih dari
50%nya meninggal dalam 1 tahun. Studi menunjukan prognosis jangka panjang yang
jelek pada pasien dengan disfungsi miokardium asimptomatis.
Beberapa faktor yang mempengaruhi gagal jantung:
n Race:
Orang
Afrika-amerika 1.5 kali beresiko meninggal karena gagal jantung dibanding orang
kulit putih.
n Sex:
Prevalensi
gagal jantung lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan pada pasien
berusia 40-75 tahun.
Tidak ada pengaruh jenis kelamin dalam predikleksi gagal jantung pada
pasien berusia lebih dari 75 tahun.
n Age:
Prevalensi
gagal jantung meningkat dengan bertambahnya usia dan mengenai 10% dari populasi
yang berusia lebih dari 75 tahun.
Gagal jantung adalah suatu sindrom
klinis yan ditandai oleh sesak nafas dan fatigue (saat istirahat atau saat
aktivitas) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungís jantung. Dahulu
gagal jantung dianggap merupakan akibat dari berkurangnya kontraktilitas dan
daya pompa sehingga diperlukan inotropik untuk menigkatkan kontraktilitas dan
diuresis serta vasodilator untuk
mengurangi beban. Sekarang gagal jantung dianggap sebagai remodelling
progresive akibat beban/penyakit pada miokard sehingga pencegahan progresivitas
dengan penghambat neurohormonal (neuohormonal blocker) seperti ACE-inhibitor,
Angiotensin Receptor-Blocker atau penyekat beta diutamakan disamping obat
konvensional (diuretik dan digitalis) ditambah dengan terapi yang muncul
belakangan ini seperti biventricular pacing, rescyncronizing cardiac teraphy
(RCT), intra cardiac defibriator (ICD), bedah rekonstruksi ventrikel kiri
(LVRS) dan mioplasti.
Faktor penyebab gagal jantung, antara lain :
1.
Gangguan kontraktilitas miokard
Merupakan ketidakmampuan miokard
untuk berkontraksi sempurna (akibat gangguan kontraktilitas) sehingga
mengakibatkan isi sekuncup (stroke volume) dan curah jantung (cardiac output)
menurun, penyebabnya dibedakan antara lain :
a.
Primer
Iskemia miokard, infark miokard,
miokarditis, kardiomiopati dilatasi (kardiomiopati iskemik, kardiomiopati
diabetic , kardiomiopati hipertensif) , kelainan metabolik dan prebikardia
(senile degeneration).
b.
Sekunder
Terjadi bersamaan sebagai akibat
kenaikan beban tekanan, beban volume dan kebutuhan metabolisme yang meningkat
atau gangguan pengisian jantung
2.
Gangguan pengisian ventrikel
Karena gangguan aliran masuk ke
dalam ventrikel atau pada aliran balik vena (venous return) akan menyebabkan
pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun.
a.
Primer
Gangguan distensi diastolic; pada
perikarditis restriktif dan perikardial effusi (tamponade jantung)
b.
Sekunder
Gagal jantung akibat disfungsi
miokard, pressure overload, volume overload atau kebutuhan metabolisme yang
berlebihan menyebabkan peninggian tekanan pada fase akhir diastolic yang
menandakan menurunnya daya tampung ventrikel. Contohnya pada stenosis mitral, stenosis
tricuspid.
3.
Beban tekanan berlebihan (pressure overload)
Beban sistolik yang berlebihan di
luar kemampuan ventrikel (sistolik overload) menyebabkan hambatan pada
pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel (ventricular output)
atau isi sekuncup. Contoh : stenosis aorta, hipertensi, koarktasio aorta.
4. Beban volume berlebihan ( volume overload)
Beban isian yang berlebihan ke dalam ventrikel
(preload) dan melampaui kapasitas ventrikel akan menyebabkan volume dan tekanan
pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Curah jantung mula-mula
meningkat, tetapi bila beban terus bertambah maka curah jantung akan menurun
kembali. Contoh :
insufisiensi aorta, insufisiensi mitral, insufisiensi tricuspid, transfusi
berlebihan.
5.
Peningkatan kebutuhan metabolik yang berlebihan
Beban karena kebutuhan metabolik
yang meningkat akan merangsang jantung bekerja lebih keras untuk menambah
sirkulasi, bila hal itu sudah melebihi kemampuan daya kerja jantung maka akan
terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi, tetapi
tidak mampu memenuhi kebutuhan sirkulasi badan (high output failure). Contoh :
Thyrotoxicosis, Gangguan Nutrisi (beriberi), Chronic anemia
Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal
jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan
ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun
mengurangi volume sekuncup (stroke volume) dan meningkatkan volume residu ventrikel.
Dengan meningkatnya EDV (End Diatolik Volume/ Volume akhir diastolik)
ventrikel, terjadi peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri
(LVEDP/Left Ventrikel End Diastolik Pressure). Derajat peningkatan tekanan
bergantung pada kelenturan ventrikel. Dengan meningkatnya LVEDP, terjadi pula
peningkatan tekanan atrium kiri (LAP/Left Atrial Pressure) karena atrium dan
ventrikel berhubungan langsung selama diastol. Peningkatan LAP diteruskan kebelakang ke dalam pembuluh darah paru-paru,
meningkatkan tekanan kapiler dan vena-vena paru. Apabila tekanan hidrostatik
anyaman kapiler paru-paru melebihi tekanan onkotik pembuluh darah, akan terjadi
transudasi cairan kedalam interstisial. Jika kecepatan transudasi melebihi kecepatan
drainase limfatik, akan terjadi edema intestisial. Peningkatan tekanan lebih lanjut akan mengakibatkan cairan merembes
kedalam alveoli dan terjadilah edema paru.

Gambar
3 Mekanisme Gagal Jantung
Tekanan arteri paru-paru dapat
meningkat akibat peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonalis
meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serangkaian kejadian
seperti yang terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan
yang akhirnya akan menyebabkan edema dan kongesti sistemik.
Perkembangan dari edema dan kongesti
sistemik atau paru dapat diperberat oleh regurgitasi fungsional dari
katup-katup trikuspidalis atau mitralis secara bergantian. Regurgitas
fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi anulus katup atrioventrikularis, atau
perubahan orientasi otot papilaris dan korda tendinae akibat dilatasi ruang.
Respons
Kompensator
Gagal jantung merupakan sindrom,
walaupun penyebabnya berbeda-beda, namun bila terjadi memiliki gejala, tanda,
dan patofisiologi yang sama. Curah jantung yang tidak adekuat menstimulasi
mekanisme kompensasi yang mirip dengan respons terhadap hipovolemia. Ada tiga
mekanisme primer (1) meningkatnya aktivitas adrenergik simpatis , (2)
meningkatnya beban awal akibat aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron,
dan (3) hipertrofi ventrikel. Ketiga respons kompensatorik ini mencerminkan
usaha untuk mempertahankan curah jantung. Mekanisme ini mungkin memadai untuk
mempertahankan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada awal
perjalanan gagal jantung, dan pada keadaan istirahat. Namun kelainan kelainan
kerja ventrikel dan menurunnya curah jantung biasanya tampak saat beraktivitas.
Dengan berlanjutnya gagal jantung, mekanisme kompensasi menjadi semakin kurang
efektif.
1.
Peningkatan aktivitas adrenergik
simpatis
Dirangsang oleh
penurunan volume sekuncup (stroke volume), mengakibatkan terjadinya peningkatan
denyut jantung dan kontraksi ventrikel untuk menambah curah jantung, selain itu
juga terjadi vasokonstriksi arteri perifer untuk menstabilkan tekanan arteri
dan redistribusi volume darah dengan mengurangi aliran darah ke organ-organ
yang metabolismenya rendah (misal kulit dan ginjal) untuk mempertahankan
perfusi ke jantung dan otak. Vasokonstriksi akan meningkatkan aliran balik vena
ke sisi kanan jantung, untuk selanjutnya menambah kekuatan kontraksi sesuai
hukum starling.
2.
Peningkatan beban awal melalui
aktivasi Sistem Ranin-Angiotensin-Aldosteron
Penurunan curah
jantung akan mengaktifkan sistem RAA Aktivasi neurohormonal terjadi dengan peningkatan
vasokonstriktor (Renin, angiotensin II, katekolamin) yang memicu retensi garam
dan air serta meningkatkan beban akhir (afterload) jantung. Hal tersebut
mengurangi pengosongan ventrikel kiri (LV) dan menurunkan curah jantung, yang
menyebabkan aktivasi neuroendokrin yang lebih hebat, sehingga meningkatkan
after load dan seterusnya, yang akhirnya membentuk lingkaran setan.

Angiotensin II
Peningkatan tekanan darah
3.
Hipertrofi ventrikel
Merupakan
respons kompensatorik terakhir pada gagal jantung, yang ditandai dengan meningkatnya jumlah sarkomer dalam
sel-sel miokardium, penambahan sarkomer bergantung pada jenis beban hemodinamik
yang mengakibatkan gagal jantung. Terdapat 2 pola hipertrofi ventrikel, (1)
Hipertrofi konsentris, terjadi akibat peningkatan beban tekanan (pressure
overload) seperti pada aorta stenosis dan hipertensi yang ditandai oleh
bertambahnya ketebalan dinding (2) Hipertrofi eksentris, terjadi akibat
peningkatan beban volume (volume overload), seperti pada aorta regurgitasi yang
dicirikan oleh pertambahan proporsional dalam ketebalan dinding dan ukuran
ruang.
Klasifikasi
Gagal jantung secara klinik
diklasifikasikan berdasarkan atas beratnya disfungsi jantung atau derajat
merosotnya kemampuan/toleransi terhadap latihan jasmani. Klasifikasi yang
banyak digunakan adalah klasifikasi New York Heart Association,
yaitu :
·
Klas I :
Pasien dengan penyakit jantung namun tanpa keterbatasan pada aktivitas fisik.
Aktivitas fisik biasa tidak menyebabkan keletihan, palpitasi, sesak, atau nyeri
angina.
·
Klas II : Pasien dengan penyakit jantung yang
menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik ringan. Pasien merasa nyaman pada
waktu istirahat. Aktivitas fisik biasa mengakibatkan kelemahan, palpitasi,
sesak, atau nyeri anginal.
·
Klas III : Pasien dengan penyakit jantung yang
mengakibatkan keterbatasan bermakna pada aktivitas fisik. Pasien merasa nyaman
pada waktu istirahat. Aktivitas fisik yang lebih ringan dari biasanya
menyebabkan keletihan, palpitasi, sesak, dan nyeri anginal.
·
Klas IV
: Pasien dengan penyakit jantung yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk menjalani aktivitas fisik apapun tanpa rasa
tidak nyaman. Gejala gagal jantung atau sindroma angina dapat dialami bahkan
pada saat istirahat. Jika
aktivitas fisik dilakukan, maka rasa tidak nyaman semakin meningkat.
Pembagian
gagal jantung
1.) Gagal Jantung Sistolik dan Diastolik
Kedua jenis ini terjadi secara tumpang
tindih dan tak dapat dibedakan dari pemeriksaan jasmani, foto thorak atau EKG
dan hanya dapat dibedakan denga echo-Doppler.
Gagal jantung sistolik adalah
ketidakmampuan kontraksi jantung memompa, sehingga curah jantung menurun dan
menyebabkan kelemahan, fatigue, kemampuan aktivitas menurun dan gejala
hipoperfusi lainnnya. Gagal jantung sistolik lebih familiar dan klasik,
terdapat kelainan dalam hal inotropik. Gagal jantung sistolik ditandai oleh
bertambahnya end diastolic volume (EDV) yang mula-mula dapat mencukupi stroke
volume (SV) tetapi kemudian disusul dengan ejection fraction (EF) yang menurun.
Gagal jantung diastolik adalah gangguan relaksasi dan gangguan pengisian
ventrikel. Jadi kemampuan ventrikel untuk menerima darah dari atrium berkurang
disebabkan kemampuan relaksasi berkurang, Gagal jantung diastolik didefinisikan
sebagai gagal jantung dengan fraksi ejeksi lebih dari 50%.
2.)
Gagal Jantung Low output dan
High output
Gagal jantung low output ialah gagal jantung dengan SV atau
CO yang rendah, disebabkan oleh, kardiomiopati dilatasi, kelainan katup dan
perikard.
Gagal jantung high output ialah gagal jantung dengan SV
atau CO yang tinggi seperti pada hipertyroidisme, anemia, kehamilan, fistula
A-V, beri-beri dan penyakit Paget. Secara praktis kedua kelainan ini sulit
dibedakan.
3.)
Gagal jantung akut dan
kronik
Gagal jantung akut adalah serangan cepat dari gejala-gejala
atau tanda-tanda akibat fungsi jantung yang abnormal. Contoh klasik gagal
jantung akut adalah robekan daun katup secara tiba-tiba akibat endokarditis,
trauma atau infark miokard luas. Curah jantung yang menurun secara tiba-tiba
menyebabkan penurunan tekanan darah tanpa disertai udem perifer.
Gagal jantung kronis adalah sindrom klinis yang komplek
yang disertai keluhan gagal jantung berupa sesak, fatigue baik keadaan
istirahat atau beraktivitas, udem dan tanda objektif adanya disfungsi jantung
dalam keadaan istirahat. Contoh gagal jantung kronis adalah kardiomiopati
dilatasi atau kelainan multi vascular yang terjadi secar perlahan-lahan.
Kongesti perifer sangat mencolok, namun tekanan darah masih terpelihara dengan
baik.
4.)
Gagal jantung kanan dan
gagal jantung kiri
Gagal jantung kanan terjadi kalau kelainannya melemahkan
ventrikel kanan seperti pada hipertensi pulmonal yang terjadi primer ataupun
sekunder, tromboemboli paru kronik sehingga terjadi kongesti vena sistemik yang
menyebabkan udem perifer, hepatomegali dan distensi vena jugularis.
Gagal jantung kiri akibat kelemahan ventrikel kiri,
manifestasi klinis ialah SV dan CO menurun dengan akibat perfusi berkurang dan
terjadi akumulasi cairan yang berlebihan pada vena pulmonalis. Contoh: AS,
hipertensi sistemik, infark luas, kardiomiopati dilatasi dengan akibat terjadi
keluhan DOE, PND, orthopnoe, hipotensi dan syok kardiogenik.
Tetapi karena perubahan biokimia gagal jantung terjadi pada
miokard kedua ventrikel, maka retensi cairan pada gagal jantung yang sudah
berlangsung bulanan atau tahun tidak lagi berbeda.
5.)
Backward – Forward heart
failure
Konsep pada Backward heart failure
adalah pada gagal jantung satu atau ventrikel lainnya gagal untuk mengeluarkan
isinya atau gagal untuk terisi secara normal, sebagai konsekuensinya, tekanan
dalam atrium dan sistem vena dibelakang ventrikel yang gagal, meningkat, dan
retensi garam dan air terjadi sebagai konsekuensi dari meningkatnya tekanan
vena sistemik dan tekanan kapiler, akibatnya terjadi transudasi cairan kedalm
ruang interstisial.
Konsep Forward heart failure, bahwa
manifestasi gagal jantung timbul secara langsung akibat tidak cukupnya
pengeluaran darah kedalam sistem arteri. Menurut konsep ini, retensi garam dan
air adalah konsekuensi dari penurunan perfusi ginjal dan reabsorbsi natrium
tubuler proksimalis yang berlebihan dan reabsorbsi tubuler distalis yang berlebihan
melalui aktivasi sistem RAA.
Manifestasi
klinis gagal jantung
1.
Dispnea. Gawat pernafasan yang terjadi akibat dari meningkatnya
usaha pernafasan adalah gejala yang paling umum. Pada gagal jantung awal,
dispnea dialami hanya selama aktivitas, namun dengan semakin berlanjutnya gagal
jantung dispnea semakin agresif dengan aktivitas yang tidak begitu berat sampai
akhirnya sesak nafas timbul walaupun pasien sedang beristirahat. Perbedaan
utama antar dispne pada orang normal dan orang dengan gagal jantung adalah
derajat aktivitas fisik yang menimbulkan gejala.
2.
Ortopnoe. Dispnea dalam posisi berbaring biasanya merupakan
manifestasi akhir dari gagal jantung dibanding dengan dispnea pada saat
aktivitas. Ortopnea terjadi karena redistribusi cairan dari abdomen dan ekstremitas
bawah ke dada ketika berbaring, yang menyebabkan peningkatan tekanan kapiler
paru yang dikombinasikan dengan elevasi diagfragma.
3.
Paroxymal (nokturnal) dispnea. Menunjukan kepada sesak nafas berat
dan batuk yang umumnya terjadi pada malam hari, yang biasanya membangunkan
pasien dari tidur dan membuat pasien takut untuk melanjutkan tidurnya.
4.
Cheyne-Stokes respiratory. Pernafasan ini juga dikenal sebagai pernafasan periodik atau siklik. Terdapat
pada gagal jantung atau cerebral insuffisiency. Terjadi karena berkurangnya
kepekaan sentral pernafasan terhadap PCO2 sehingga terjadi apnea;
pada saat apnea terjadi akumulasi CO2 yang cukup merangsang pusat
pernafasan dan terjadi hiperventilasi, kelainan pernafasan ini bertambah berat
dengan pemberian opiate atau sedative.
Pemeriksaan Fisik
o Temuan Umum (General Appearance)
o
Pasien dengan gagal jantung sedang (mild) tampak tidak mempunyai
keluhan setelah beberapa menit beristirahat, tetapi mereka akan tampak dispnea
ketika dan segera setelah melakukan aktivitas sedang.
o
Pada gagal jantung berat, tekanan nadi mungkin berkurang menunjukan
penurunan volume sekuncup dan tekanan arteri diastolik mungkin meningkat akibat
dari vasokonstriksi menyeluruh.
o
Pada gagal jantung akut, hipotensi mungkin menonjol.
o
Mungkin terdapat sianosis pada bibir dan bantalan kuku, sinus
takikardi dan pasien memaksa untuk tegak.
o
Tekanan vena sistemik seringkali meningkat abnormal pada gagal
jantung dan dapat dikenali dengan mengamati besarnya distensi vena jugularis.
o
Pulsus alternans, yaitu ritme teratur yang disebabkan oleh
terdapatnya perubahan kontraksi jantung kuat dan lemah dan karenanya terjadi
perubahan kekuatan nadi perifer.
o
Bunyi jantung ketiga (S3 gallop = Protodiastolic Gallop)dan keempat
(Atrial Gallop atau Presystolic Gallop) merupakan tanda gagal jantung berat dan
disebabkan oleh pengurangan jumlah unit kontraktil selama kontraksi yang lemah
dan/atau perubahan dalam volume diastolik akhir ventrikel.
o
Ronkhi. Pada pasien gagal jantung dengan peningkatan tekanan kapiler serta
vena pulmonalis umum didapati ronki basah, krepitasi saat inspirasi dan bunyi
pekak pada perkusi di basis paru.
o
Cardiac edema. Biasanya simetris dan dependen, terdapat pada tungkai bawah terutama pada pretibia dan mata kaki.
o
Hidrothorax dan ascites. Efusi
pleura pada gagal jantung kongesti terjadi akibat peningkatan tekanan kapiler
pleura dan transudasi cairan kedalam ruang pleura.
o
Hepatomegali kongestif. Hati yang membesar, lunak, berdenyut juga menyertai hipertensi vena
sistemik dan dapat diamati tidak hanya pada keadaan yang sama ketika muncul
asites tetapi juga pada bentuk ringan gagal jantung oleh sebab apapun.
o
Ikterus. Kelainan ini adalah temuan lanjut pada gagal jantung kongestif dan
berkaitan dengan peningkatan biliburin langsung dan tidak langsung.
o
Kakeksia Jantung. Dengan gagal jantung kronik berat mungkin ada penurunan berat
badan serius dan kakeksia karena meningkatnya konsentrasi sirkulasi dari faktor
nekrosis tumor.
Diagnosis
Diagnosis
dibuat berdasarkan pada:
1.
Anamnesis yang benar.
2.
Pemeriksaan fisik.
3.
EKG.
4.
Foto thoraks.
5.
Laboratorium.
6.
Echocardiography.
7.
Radionuclide ventriculography Echocardiography.
Kriteria Framingham dapat pula dipakai untuk diagnosis gagal
jantung kongestif
Kriteria
Major
§ Paroksismal
nokturnal dispnea
§ Distensi vena
leher
§ Ronki paru
§ Kardiomegali
§ Edema paru akut
§ Gallop S3
§ Peninggian
tekanan vena jugularis
§ Refluks
hepatojugular
Kriteria
minor
o Edema
ekstremitas
o Batuk malam
hari
o Dispnea
d’effort
o Hepatomegali
o Efusi pleura
o Penurunan
kapasitas vital 1/3 dari normal
o Takikardi
(>120/menit)
Major
atau minor
- Penurunan BB lebih sama dari 4,5 kg dalam 5 hari pengobatan
- Diagnosis gagal jantung ditegakan minimal ada 1 kriteria major dan 2 kriteria minor
Penatalaksanaan
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan
terapi pada pasien dengan gagal jantung telah mengalami perubahan. Saat ini
terapi tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki gejala, tetapi terfokus secara meningkat pada mencegah transisi disfungsi jantung asimtomatik ke
gagal jantung simtomatik, menghambat progresivitas gagal jantung dan mengurangi
angka kematian. Gagal jantung
merupakan sindrom yang kompleks, pendekatan terapeutik mungkin membutuhkan
beberapa strategi dengan kombinasi target mekanisme yang berbeda.
Pharmacological
therapy
Angiotensin-converting
enzyme inhibitors
·
Dianjurkan sebagai obat lini pertama baik dengan atau tanpa keluhan
dengan fraksi ejeksi 40-45%. Untuk meningkatkan survival, memperbaiki simtom,
mengurangi kekerapan rawat inap di rumah sakit.
·
Harus diberikan sebagai terapi inisial bila tidak ditemui retensi
cairan. Bila disertai retensi cairan harus diberikan bersama diuretik. .
·
Efek ACE Inhibitor:
1.
Menurunkan kadar angiotensin II dan aldosteron dalam sirkulasi.
2.
Menurunkan resitensi perifer
3.
Sedikit efek pada heart rate
Diuretik
Loop diuretik, tiazid, metolazon
·
Penting untuk pengobatan simtomatik bila ditemukan beban cairan
berlebihan, kongesti paru dan edema perifer.
·
Tidak ada bukti dalam memperbaiki survival, dan harus dikombinasi
dengan penyekat enzim konversi agiotensin atau penyekat beta.
β
Bloker (obat penyekat beta)
·
Direkomendasikan pada semua gagal jantung ringan, sedang dan berat
yang stabil baik karena iskemi atau kardiomiopati non iskemi dalam pengobatan
standar seperti diuretik atau ACE inhibitor. Dengan syarat tidak ditemukan
adanya kontraindikasi terhadap penyekat beta.
·
Terbukti menurunkan angka masuk rumah sakit, meningkatkan
klasifikasi fungsi (I.A)
·
Kontra indikasi:
1.
Asthma bronkial
2.
Severe bronkial disease
3.
Simptomatikbradikardi/hipoten
Antagonis
reseptor aldosteron
·
Penambahan terhadap ACE inhibitor, penyekat beta, diuretik pada
gagal jantung berat (NYHA III-IV) dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas
(I.B).
·
Sebagai tambahan terhadap obat
ACE Inhibitor dan penyekat beta pada gagal jantung sesudah infark
jantung, atau diabetes, menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Antagonis Penyekat Reseptor Angiotensin II
·
Masih merupakan alternatif bila pasien tidak toleran terhadap ACE
Inhibitor.
·
Penyekat angiotensin II sama efektif dengan ACE Inhibitor pada
gagal jantung kronik dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas Pada infark
miokard akut dengan gagal jantung atau disfungsi ventrikel, penyekat angiotensin II sama
efektif dengan ACE inhibitor dalam menurunkan mortalitas.
·
Dapat dipertimbangkan penambahan penyekat angiotensin II pada
pemakaian ACE inhibitor pada pasien yang simtomatik guna menurunkan mortalitas.
Glikosida
Jantung (Digitalis)
§ Merupakan
indikasi pada fibrilasi atrium pada berbagai derajat kegagalan jantung,
terlepas apakah gagal jantung bukan atau sebagai penyebab (I.B).
§ Kombinasi
digoksin dan penyekat beta lebih superior dibandingkan bila dipakai
sendiri-sendiri tanpa kombinasi.
§ Tidak mempunyai
efek terhadap mortalitas, tetapi dapat menurunkan angka kekerapan rawat inap.
Venodilator
·
Venodilator mempunyai efek venous pooling dengan acute reduction in
elevated filling pressure akibat venous return yang menurun.
·
Dengan diberikan venodilator dan diuretika, filling pressure
(penurunan preload) dapat diturunkan dengan akibat symptom berkurang.
DIGOKSIN
Digoksin merupakan prototipe glikosida jantung yang berasal
dari Digitalis lanata. Mekanisme kerja digoksin melalui 2 cara, yaitu efek
langsung dan tidak langsung. Efek langsung yaitu meningkatkan kekuatan kontraksi
otot jantung (efek inotropik positif). Hal ini terjadi berdasarkan penghambatan
enzim Na+, K+ -ATPase dan peningkatan arus masuk ion kalsium ke intrasel. Efek tidak
langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap aktivitas saraf otonom dan sensitivitas
jantung terhadap neurotransmiter.
Indikasi:
Untuk payah jantung kongestif, fibrilasi atrium, takikardia atrium proksimal dan flutteratrium.
Dosis:
Dosis dewasa: rata-rata 3-6 tablet sehari dalam dosis terbagi. Untuk digitalisasi cepat dimulai 2 - 3 tablet, diikuti 1 -2 tablet tiap 6-8 jam sampai tercapai digitalisasi penuh. Untuk digitalisasi lambat dan dosis penunjang 1/2-2 tablet sehari (1/2-1 tablet pada usia lanjut), tergantung pada berat badan dan kecepatan bersihan kreatinin. Dosis harus dikurangi pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
Anak-anak dibawah 10 tahun : 0.025 mg/kgBB sehari dalam dosis tunggal atau terbagi.
Indikasi:
Untuk payah jantung kongestif, fibrilasi atrium, takikardia atrium proksimal dan flutteratrium.
Dosis:
Dosis dewasa: rata-rata 3-6 tablet sehari dalam dosis terbagi. Untuk digitalisasi cepat dimulai 2 - 3 tablet, diikuti 1 -2 tablet tiap 6-8 jam sampai tercapai digitalisasi penuh. Untuk digitalisasi lambat dan dosis penunjang 1/2-2 tablet sehari (1/2-1 tablet pada usia lanjut), tergantung pada berat badan dan kecepatan bersihan kreatinin. Dosis harus dikurangi pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
Anak-anak dibawah 10 tahun : 0.025 mg/kgBB sehari dalam dosis tunggal atau terbagi.
Peringatan
dan perhatian:
Dosis
lebih rendah pada pasien dengan berat badan rendah. Usia lanjut, hipokalemia
dan hipotiroid. Setelah pemberian selama 14 hari, dosis harus
diturunkan dan disesuaikan dengan respon pasien. Hati-hati pemberian pada ibu hamil
dan menyusui.
Hati-hati pemberian pada penderita gagal jantung yang menyertai glomerulonefritis akut, karditis berat, gangguan fungsi ginjal sedang sampai berat, hipokalsemia, hipomagnesemia, aritmia atrium yang disebabkan keadaan hipermetabolik, penyakit nodus SA, Sindroma Wolff - Parkinson - White, perikarditis konstriktif kronik, bayi neonatus dan bayi prematur. Blok AV tidak lengkap pada pasien dengan serangan Stokes - Adams dapat berianjut menjadi Blok AV lengkap. Jangan digunakan untuk terapi obesitas atau takikardia sinus, kecuali jika disertai gagal jantung.
Hati-hati pemberian pada penderita gagal jantung yang menyertai glomerulonefritis akut, karditis berat, gangguan fungsi ginjal sedang sampai berat, hipokalsemia, hipomagnesemia, aritmia atrium yang disebabkan keadaan hipermetabolik, penyakit nodus SA, Sindroma Wolff - Parkinson - White, perikarditis konstriktif kronik, bayi neonatus dan bayi prematur. Blok AV tidak lengkap pada pasien dengan serangan Stokes - Adams dapat berianjut menjadi Blok AV lengkap. Jangan digunakan untuk terapi obesitas atau takikardia sinus, kecuali jika disertai gagal jantung.
Efek Samping :
Dapat
terjadi anoreksia, mual, muntah dan sakit kepala. Gejala toksik pada jantung :
kontraksi ventrikel prematur multiform atau unifocal, takikardia
ventrikular, desosiasi AV, aritmia sinus,
takikardia atrium dengan berbagai derajat blok AV. Gejala neurologik: depresi,
ngantuk, rasa lemah, letargi, gelisah, vertigo, bingung dan halusinasi visual.
Gangguan
pada mata: midriasis, fotofobia dan berbagai gangguan visus. Kontraindikasi :
Blok
AV tingkat 2 dan blok AV total. Aritmia supra ventrikular yang disebabkan
sindroma Wolff – Parkinson White. Fibrilasi ventrikel. Hipersensitif
terhadap digoksin dan penderita dengan riwayat intoleransi terhadap preparat digitalis.
Interaksi Obat :
Kuinidin,
verapamil, amiodaron dan propafenon dapat meningkatkan kadar digitalis.
Diuretik, kortikosteroid, dapat menimbulkan hipokalemia sehingga mudah terjadi
intoksikasi digitalis. Antibiotik tertentu menginaktivasi digoksin melalui
metabolisme bakterial di usus bagian bawah. Propantelin, difenoksilat,
meningkatkan absorpsi digoksin. Antasida, kaolin-peptin, sulfasalazin,
neomisina, kolestiramin, beberapa obat kanker, menghambat absorpsi digoksin.
Simpatomimetik, meningkatkan resiko aritmia. Beta - bloker, kalsium antagonis,
berefek aditif dalam penghambatan konduksi AV.
KESIMPULAN
Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana
jantung tidak dapat memompa darah dalam jumlah yang memadai ke seluruh tubuh.
Jantung tetap bekerja tetapi kekuatan memompa atau daya tampungnya berkurang.
Gagal jantung bisa menyerang jantung bagian kiri, bagian kanan atau keduanya.
Gejala gagal jantung adalah sesak napas, merasa lelah, tidak ada nafsu makan,
bengkak di pergelangan kaki, tungkai (kadang perut), Batuk (yang semakin
memburuk pada malam hari atau ketika berbaring), berat badan bertambah, sering
berkemih.
Berat ringannya gagal jantung, biasanya
dikelompokkan berdasarkan pengaruhnya terhadap kegiatan Anda sehari-hari:
- Derajat 1: Tanpa keluhan - Anda masih bisa melakukan aktivitas fisik sehari-hari tanpa disertai kelelahan ataupun sesak napas
- Derajat 2: Ringan - aktivitas fisik ringan/sedang menyebabkan kelelahan atau sesak napas, tetapi jika aktivitas ini dihentikan maka kluhan pun hilang
- Derajat 3: Sedang - aktivitas fisik ringan/sedang menyebabkan kelelahan atau sesak napas, tetapi keluhan akan hilang jika aktivitas dihentikan
- Derajat 4: Berat - tidak dapat melakukan aktivitas fisik sehari-hari, bahkan pada saat istirahat pun keluhan tetap ada dan semakin berat jika melakukan aktivitas.
Selain memperoleh keterangan yang mendukung
dari hasil wawancara dan pemeriksaan fisik, dokter biasanya melakukan
serangkaian pemeriksaan guna menunjang diagnosis gagal jantung yaitu EKG
(elektrokardiogram), echokardiogram, foto rontgen dada dan tes darah BNP. Tatalaksana pasien gagal
jantung dapat dengan perubahan gaya hidup seperti diet rendah garam, membatasi asupan cairan dan berhenti
merokok serta pemberian obat-obatan
untuk membantu memperbaiki fungsi jantung dan meringankan gejala seperti
diuretik dan beta blocker.
DAFTAR PUSTAKA
- Diunduh dari : http ://www.heartzine.com/anatomyphysiology/18
- Sherwood, L, Human Physiology : from cells to system, 1996
- Mansjoer, Arief et all. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Media Aescalapius
- Sudoyo A.W, setiyohadi B, Alwi idrus. Simadribrata M,soetiatis 2009.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi V jilid II. Pusat penerbitan FKUI. Jakarta.
- A price sylvia dan loraine M wilson.2005.Patofisiologi. EGC. Jakarta.
- H. swartz, mark.1995.Buku Ajar Diagnostik Fisik. EGC.Jakarta.
- C. guyton, arthur dan John E, hall.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.EGC. Jakarta.
- Syarif A, Dkk.2007.Farmakologi Dan Terapi Edisi 5.Balai penerbit FKUI.Jakarta.
- Ismudiati Rilantono, lily dkk.1998. Buku Ajar Kardiologi. FKUI. jakarta.

Casino Game For Sale by Hoyle - Filmfile Europe
BalasHapus› 토토 사이트 casino-games › casino-games › casino-games › casino-games Casino Game https://tricktactoe.com/ for sale by Hoyle on Filmfile Europe. Free shipping for most countries, หารายได้เสริม no download required. casino-roll.com Check the deals we have. casinosites.one