ASMA
Asma
ditandai dengan kontraksi spastik otot polos bronkiolus, yang menyumbat
bronkiolus secara parsial dan menyebabkan kesukaran bernapas yang hebat. Hal
ini terjadi pada 3 sampai 5 persen dari seluruh manusia pada suatu saat dalam
hidupnya.
- Penyebab asma yang umum ialah hipersensitivitas kontraktil bronkiolus sebagai respon terhadap benda-benda asing di udara. Pada pasien di bawah usia 30 tahun, sekitar 70 persen asma disebabkan oleh hipersensitivitas alergik, terutama hipersensitivitas terhadap serbuk sari tanaman. Pada pasien yang lebih tua, penyebabnya hampir selalu hipersensitivitas terhadap bahan iritan nonalergenik di udara, seperti iritan pada kabut asap.
- Proses Reaksi alergi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi menurut cara berikut ini: seseorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar, dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila orang tersebut bereaksi dengan antigen spesifik yang memicu terbentuknya antibodi tersebut pada pertama kali. Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat dalam interstitial paru yang berhubungan erat dengan bronkiolus dan bronkus kecil. Bila seseorang yang menderita asma menghirup serbuk sari yang sensitif baginya (telah terbentuk antibodi IgE terhadap serbuk sari pada orang tersebut), serbuk sari bereaksi dengan antibodi-terlekat sel mast dan menyebabkan sel mast mast mengeluarkan berbagai macam zat. Diantaranya adalah (a) histamin, (b) zt nafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan campuran leukotrien), (c) faktor kemotaktik eosinofilik, dan (d) bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor ini, terutama subtansi anafilaksis yang bereaksi lambat, akan menghasilkan (1) edema lokal pada dinding bronkiolus kecil maupun sekresi mukus yang kental ke dalam lumen bronkiolus, dan (2) spasme otot polos bronkiolus. Oleh karean itu, tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Seperti yang telah dibahas. Bahwa
pada asma, diameter bronkiolus lebih banyak berkurang selama ekspirasi daripada
selama inspirasi, karena bronkiolus kolaps selama upaya ekspirasi akibat
penekanan pada bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus pada paru asmatik
sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan
eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pasien
asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat tetapi sukar
ssekali melakukan ekspirasi. Pengukuran klinis memperlihatkan (1) penurunan
sangat besar laju ekspirasi maksimum dan (2) berkurangnya volume ekspirasi
terukur (timed expiratory volume).
Juga, semua keadaan ini menyebabkan dispnea, atau “air hanger”.
Kapasitas
residu fungsional dan volume residu
paru menjadi meningkat terutama selama serangan asma akut akibat kesukaran
mengeluarkan udara dari paru. Juga, setelah bertahun-tahun, rongga dada menjadi
besar secara permanen, mengakibatkan “dada
tong (barrel chest)”, dan kapasitas residu fungsional dan volume residu
paru menjadi meningkat secara permanen.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar